Kisah Mualaf

Informasi Haji dan Umrah

    Awalnya Membenci Islam, Wanita Yahudi Jadi Mualaf


    Maryam Jameelah memandang semua agama tradisional dengan nada menghina. Sampai akhir datang sebuah hidayah.
    Rindu Ke Baitullah - Maryam Jameelah adalah penulis muslim yang menulis lebih dari 30 buku tentang budaya dan sejarah Islam.Lahir dengan nama Margret 'Peggy' Marcus di New York dari sebuah keluarga Yahudi sekuler, ia mempelajari Yudaisme dan agama lain saat remaja sebelum akhirnya masuk Islam pada 1961.
    Menurut Maryam, minatnya terhadap Islam bermula ketika mengikuti sekolah reformasi Yahudi Sunday School pada usia 10 tahun. Saat itu, ia tertarik dengan sejarah hubungan Yahudi dan Arab.
    Karena tidak suka dengan pelajaran di Yahudi Sunday School, ia kemudian dipindahkan ke Ethical Culture Sunday School.

    Di sini dia belajar setiap minggu hingga lulus pada usia 15 tahun. Maryam tumbuh menjadi pendukung penuh dari gerakan Ethical Culture Movement dan memandang semua agama tradisional dengan nada menghina.

    Saat berusia 18 tahun, ia menjadi anggota gerakan pemuda Zionis Mizrachi Hatzair. Tapi saat mengetahui sifat sebenarnya dari Zionis, Maryam segera meninggalkannya beberapa bulan kemudian.

    Dia pun kembali tenggelam dalam pencarian identitas diri. Selama periode inilah Maryam tertarik mempelajari Islam melalui Baha'i yang juga dikenal sebagai The Caravan of East and West yang diketuai oleh Mirza Ahmed Sohrab.

    Namun Maryam tidak lama mengikuti Baha'i dan dia keluar setahun kemudian. Selain Baha'i, Maryam juga terinspirasi oleh buku Muhammad Asad, The Road to Mecca. Muhammad Asad adalah juga seorang Yahudi yang memeluk Islam pada 1926.

    Saat usianya mencapai 20 tahun, Maryam belajar tentang pengaruh Yahudi dalam Islam di New York University. Sayangnya, profesor yang juga ketua jurusan Studi Ibrani, Rabbi Abraham Issac Katsh menjelaskan pada mahasiswanya bahwa Islam berasal dari agama Yahudi.

    Lebih buruk lagi, Profesor Katsh menyalahgunakan Alquran demi membuktikan kepada mahasiswanya bahwa agama Yahudi adalah agama teragung.
    Namun Maryam segera menyadari bahwa Zionisme hanyalah paham yang rasis dan hampir semua pemimpin Amerika menjadi pendukungnya. Ironisnya, apa yang diperlihatkan Profesor Katsh justru semakin menguatkan ketertarikan Maryam pada Islam.

    Selama mengikuti kuliah Profesor Katsh, Maryam bertemu dengan seorang gadis bernama Zenita. Penampilannya tidak biasa dan terlihat seperti gadis dari Turki atau Timur Tengah. Ternyata dia seorang Yahudi Orthodoks dari Rusia yang hijrah ke Amerika.

    Meski keluarganya taat, Zenita mengatakan bahwa dia juga sedang belajar bahasa Arab. Namun, tanpa peringatan sebelumnya, Zenita tidak masuk kelas Profesor Katsh lagi dan tidak pernah kembali.

    Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba dia muncul dan mengajak Maryam ke pameran kaligrafi di Museum Metropolitan.
    Selama melihat-lihat pameran, Zenita bercerita jika dia sekarang seorang muslim dengan disaksikan dua temannya dari Palestina.

    Setelah berpikir tentang Zenita, Maryam memilih keluar dari New York University pada 1956 dan kemudian membuat perbandingan agama dengan Islam. Ia menghabiskan bertahun-tahun membaca teks Islam di bagian Oriental perpustakaan publik di New York.

    Sejak 1959, Maryam terlibat dalam berbagai organisasi Islam. Dia juga sering berkorespondensi dengan beberapa ulama di luar AS, terutama Maulana Maududi, pemimpin Jamaah Islamiyah di Pakistan. Dan akhirnya pada tanggal 24 Mei 1961 di usia 27 tahun, Maryam memutuskan memeluk Islam.

    Setelah menerima undangan Maulana Maududi, Maryam beremigrasi ke Pakistan pada tahun 1962 dan sejak itu ia tinggal di sana hingga akhir hayatnya.(dream.co.id)

    Kisah Gadis Inggris Jadi Mualaf dari Alquran Pinjaman

    Kini dia memutuskan untuk memakai hijab.
    Rindu Ke Baitullah- Clare adalah seorang mualaf dari Reading, Inggris. Ia mempelajari Islam selama 3 tahun dan memutuskan untuk menjadi mualaf pada 2002 saat usianya masih 19 tahun.
    Semasa kanak-kanak, Clare sudah mengenal muslim melalui teman-temannya. Saat itu, ia sering diundang untuk buka puasa.
    Namun saat menginjak remaja, Clare mulai mempertanyakan tentang Islam. Seperti mengapa ibu temannya memakai kerudung atau mengapa harus puasa dan tidak minum alkohol.
    Selama ini Clare tidak memakan mentah-mentah penjelasan mereka karena selalu dihubungkan dengan keyakinan.
    Namun salah satu pecakapan yang menyentuh Clare adalah saat teman-temannya menjelaskan Tuhan hanya satu yaitu Allah. Clare semakin terperangah saat mendengar bahwa Islam juga percaya nabi-nabi seperti Adam, Nuh, Musa, Yusuf, Ibrahim dan lainnya.
    Clare memutuskan untuk menemukan sumber untuk mencari tahu keyakinan yang asing baginya itu. Dia kemudian meminjam Alquran terjemahan Bahasa Inggris dan selama liburan musim panas, dia membacanya.
    Clare benar-benar terkejut karena dalam beberapa hal ada kemiripan dengan keyakinannya. Clare tidak berpikir untuk berubah keyakinan atau agama. Dia hanya tertarik mengapa teman-teman muslimnya mengikuti agama ini dan memegangnya dengan teguh.
    Beberapa waktu kemudian, Ramadan telah datang dan dia bertekad akan puasa satu hari. Clare merasakan puasa satu hari ternyata sulit.
    Tapi berkat dorongan teman-temannya, Clare berpuasa satu minggu. Puasa adalah pengalaman yang aneh bagi Clare karena di saat memiliki kemampuan dan sarana untuk makan atau minum, muslim justru tidak melakukannya.
    Tapi Clare melihat sisi positif dari puasa yang disebutnya seperti menetapkan target dan kemudian mencapainya. Dia berpikir itu seperti aktivitas pengembangan pribadi.
    Clare pun menghormati dan memahami Islam, dan dia juga mulai mempercayainya. Tidak hanya dari segi keimanan saja, Clare juga belajar Islam dari sisi politik, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Meski tidak berat seperti mata kuliah di universitas, hal itu memperdalam pengetahuan Clare tentang Islam.
    Saat liburan, Clare menjadi sedih ketika terjadi serangan teroris 11 September di menara kembar WTC di New York. Dia terkejut saat berita-berita menyebutkan pelaku serangan adalah teroris yang mengatasnamakan Islam.
    Clare bahkan sempat berdebat dengan kakaknya bahwa pelaku bukan muslim. Karena Clare pernah membaca dalam Alquran bahwa membunuh satu kehidupan seolah-olah telah membunuh semua umat manusia dan sebaliknya.
    Dia merasa benar-benar terluka tentang berita-berita yang dikabarkan. Dia pergi ke kamar dan berlutut seraya berkata dalam bahasa Arab 'Saya percaya hanya ada satu Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan terakhir-Nya'. Clare percaya Islam tapi dia belum tahu dan yakin dia bisa menjalankan gaya hidup muslim.
    Namun Clare mulai berhenti mengkonsumi alkohol dan daging babi. Namun dia masih ragu untuk mengenakan hijab.
    Saat memberi tahu keluarganya bahwa dia kini mengadopsi gaya hidup muslim, keluarganya tidak bisa menerimanya. Namun itu tidak terlalu lama dan tidak menjadi hal yang dibesar-besarkan.
    Setelah mantap bahwa keluarganya mulai bisa menerimanya, Clare memutuskan pergi ke masjid di kotanya untuk benar-benar menjadi seorang muslim.
    Dia akhirnya mengucapkan kalimat syahadat yang sudah dilakukannya 10 bulan sebelumnya. Sejak mengucapkan syahadat di masjid itu, Clare memutuskan untuk memakai hijab.
    Sejak saat itu, Clare terus-menerus belajar hal-hal baru. Dia juga bersyukur telah diberkati bantuan teman-teman dan sekarang dukungan dari keluarganya. Clare telah berkembang dan tumbuh sebagai seorang muslim yang sebenarnya. (Dream.co.id)

    Cinta Itu Membuat Wanita Pemabuk Ini Masuk Islam

    Masa muda perempuan 37 tahun ini dilewatkan dengan berhura-hura. Saban hari menenggak minuman keras. Menari di bar dengan setengah telanjang saat waktu malam. Pergaulannya sungguh bebas.
    Rindu ke Baitullah- Ini kisah hidup Claire Biskill. Mualaf asal Inggris. Masa muda perempuan 37 tahun ini dilewatkan dengan berhura-hura. Saban hari menenggak minuman keras. Menari di bar dengan setengah telanjang saat waktu malam. Pergaulannya sungguh bebas.
    “Sebelum menjadi ibu, saya selalu berpikir tak masalah membawa pulang seorang lelaki setelah keluar malam,” tutur Claire dikutip Dream dari Mirror.co.uk, Jumat 19 Desember 2014.
    Kehidupan Claire Muda sungguh tak sehat. “Saya bisa merokok 40 batang sehari. Aku seperti cerobong asap dan hampir selalu memegang rokok di tangan saya.”
    Pada 2012 silam, perempuan yang punya tiga anak, yang masing-masing berusia 18, 16, dan 6 tahun itu, belajar burlesque –penari opera. Sejak itu, Claire secara rutin menari-nari dengan mengumbar bagian tubuhnya.
    “Saya menari secara rutin, dimulai dengan berpakaian dan berakhir hanya dengan pakaian dalam,” tutur Claire. Gaya hidup itu berimbas pada keluarga. Rumah tangga yang dia bina selama delapan tahun kandas pada 2013 silam.
    Di tahun yang sama, Claire memperdalam ilmu pariwisata pada sebuah perguruan tinggi. Keputusan inilah yang menuntunnya menemukan Islam. Di tengah masa belajar itu, dia berkunjung ke Gambia, sebuah negara di Afrika Barat.
    Kunjungan yang dilakukan tahun ini telah mempertemukannya dengan Sarif Jallow. Pemuda berusia 28 tahun yang hangat dan baik hati. Kala itu, Claire langsung jatuh cinta. “Ini cinta pada pandangan pertama. Dia seorang guru, sangat cerdas dan baik hati,” tutur dia.
    “Saat hari terakhir perjalanan pada Maret silam dia berkata mencintai saya. Saat tiba di bandara saya menangis dan terus menangis selama tiga jam tanpa henti,” tambah Claire.
    Setelah sampai di rumah, Claire menerima telepon dari Sarif. Dalam waktu sepekan itu, pemuda yang baru dikenal itu selalu menelepon di waktu malam. Hingga pada akhirnya melamar Claire melalui telepon itu. hati ibu tiga anak ini pun tergetar.
    Namun Claire sadar. Keyakinannya berbeda dengan Sarif yang seorang Muslim. Sehingga dia mencari tahu tentang Islam karena dalam setiap telepon itu Sarif juga berbicara tentang agama.
    “Saya dengan cepat merasa nyambung. Ini [Islam] berisi perdamaian, empati, cinta, dan kebaikan, semuanya saya yakini. Saya sadar saya harus menjadi seorang Muslim,” kata Claire.
    Keputusan untuk menjadi mualaf semakin kuat. pada Juni silam, Claire mengucap Syahadat. Nama Claire Biskill pun diganti dengan Jameela.
    Secara perlahan dia pelajari Islam. Pada bulan Ramadan silam, dia juga turut berpuasa. “Itu sulit tetapi sangat memuaskan. Pikiran romantis dilarang selama bulan Ramadan, jadi saya tidak berbicara dengan Sarif di siang hari karena mendengarkan suaranya bisa membangkitkan syahwat.”
    Claire juga telah menceritakan masa lalunya kepada Sarif. Dan pemuda yang dia cinta itu tercengang. Namun bisa menerima karena kemauannya untuk berubah.
    Kini, Jameela benar-benar belajar hidup sebagai Muslimah. Dia mulai belajar berkerudung. Dan juga menyantap makanan halal. “Saya berjalan sepuluh mil untuk memastikan membeli makanan halal,” kata dia.
    Kebiasaan lama yang penuh dengan kehidupan glamor juga dia tinggalkan. Bar yang dulu menjadi rumah ke duanya sudah tak pernah dia datangi lagi. “Saya tidak bisa membayangkan memamerkan tubuh saya seperti itu [menari burlesque]. Saya sangat malu dengan perilaku saya.”
    Namun, jalan hidup sebagai Muslimah tak mudah. Dia mendapat perlakuan kurang baik dari teman-temannya. Bahkan sebagian dari mereka memutus persahabatan itu. “Orang yang saya kenal menarik jaket mereka ke atas kepala dan berlari berkeliling sambil berteriak ‘Saya Jameela’. Saya juga telah dipanggil teroris oleh orang lain dan juga mantan teman-teman saya,” ucap dia.
    Meski kehilangan sebagian teman, Claire yang merasa terlahir kembali dengan nama Jameela itu mendapat gantinya. Dia kini bisa hidup damai bersama komunitas Muslim di lingkungannya.
    “Komunitas Muslim sangat terbuka. Saya diundang ke rumah mereka. Saya tidak pernah merasa lebih bahagia atau sehat sebelum ini. Dan semua itu, terma kasih telah berjumpa Sarif,” kata Jameela.
    Perempuan yang di waktu muda doyan mabuk-mabukan itu mengganti malam-malamnya dengan beribadah. “Saya salat lima waktu. Saya juga mulai membaca Alquran terjemahan, karena saya tidak bisa berbahasa Arab dengan baik,” tutur dia.
    (mzq, Sumber: Dream.co.id)

    Akui Keajaiban Alquran, Wanita AS Jadi Mualaf

    Setelah membaca setiap ayat dalam Alquran dua kali dan mencatat tafsirnya, dia....
    Rindu ke Baitullah - Angela Collins merasa bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang mendorong umatnya untuk berserah diri secara total kepada Penciptanya. Pencipta manusia dan alam semesta.
    Sebagai seorang muslim Amerika, Collins menyadari agama yang dianutnya sering disalahartikan dan tidak disukai.
    Dia menyadari keputusan dia memeluk agama 'kontroversial' ini telah membuat keluarga dan teman-temannya bingung.
    Namun demikian, dia melihat Islam sebagai agama untuk meluruskan kesalahan manusia yang mengubah kata-kata Allah agar sesuai kepentingan mereka.
    Islam adalah sederhana: Allah adalah Allah. Tuhan menciptakan kita dan kita menyembah Allah dan Allah saja. Allah mengutus Musa, Isa dan Muhammad untuk menyampaikan pesannya dan membimbing semua orang.
    Selama hidupnya, Collins telah mencari pemahaman soal agama dan Tuhan. Namun sebelum memeluk Islam, dia benar-benar bingung tentang sifat Tuhan. 
    Tapi, Islam menegaskan, manusia tidak diberi jalan ke surga hanya karena dia seorang Muslim. Dan manusia tidak langsung ke surga hanya karena percaya bahwa Allah adalah satu.
    Manusia ke surga berdasarkan niat dan tindakan yang diajarkan kepadanya oleh utusan Allah yang dikonfirmasi melalui kitab-Nya.
    Setelah membaca setiap ayat dalam Alquran dua kali dan mencatat tafsirnya, Collins percaya bahwa kitab itu adalah karya Allah.
    "Saya tanpa ragu lagi meyakini bahwa pemilik kitab Alquran lebih tahu banyak tentang diri saya daripada saya sendiri," katanya.
    Pada intinya Allah telah membuka hati Collins. Islam memberi arah hidup dan sekarang dia hidup untuk mencari bimbingan Alquran untuk kebahagiaan di dunia dan insya Allah, di akhirat.
    Menurutnya, Islam adalah universal dan merupakan sistem yang dapat diadopsi dalam lingkungan apapun pada setiap saat.
    (zk, Sumber: Dream.co.id)

    Cerita Kapolda Bali Peluk Islam

    Setelah menjadi mualaf, orang nomor satu di Polda Bali ini berencana pergi umroh bersama sang istri dalam waktu dekat.

    Rindu Ke Baitullah - Kapolda Bali, Irjen Albertus Julius Benny Mokalu akhirnya mau menceritakan keputusan dia menjadi mualaf. Sebelumnya, jenderal bintang dua ini tidak mau kisahnya itu diumbar ke publik.
    "Bukan karena istri. Bukan karena keyakinan saya sebelumnya tidak bagus. Tetapi ini murni dari dalam diri hati untuk menjadi seorang muslim," kata mantan Kapolda Bengkulu ini dikutip Dream.co.id dari laman Merdeka.com, Senin 11 November 2014.

    Setelah menjadi mualaf, orang nomor satu di Polda Bali ini berencana pergi umroh bersama sang istri dalam waktu dekat.

    Untuk diketahui, pria kelahiran Kupang, NTT 22 Juli 1959, selama ini memang beda keyakinan dengan istrinya. Namun bahtera kehidupan rumah tangganya berjalan normal, kendati istrinya muslim dan dia Katolik.

    Pengumuman Akpol lulusan 1985 ini menjadi mualaf disebarkan melalui jejaring sosial Facebook, lewat akun Mualaf Center Indonesia.

    Di dalam akun itu terpampang foto Benny mengucapkan syahadat dibimbing seorang ulama asal Bengkulu, Habib Abdurrahman dan disaksikan sejumlah tokoh serta pejabat teras Polda Bali.
    (Ism, Sumber: Dream.co.id)

    Dari Tugas Menulis, Gadis Kanada Ini Peluk Islam

    Dia memilih topik tersebut karena telah mengumpulkan informasi soal Islam dari Internet.

    Rindu Ke Baitullah - Lorena adalah seorang mualaf dari Ontario, Kanada. Sebelum mengenal Islam, Lorena hanya tahu bahwa agama tersebut selalu digambarkan penuh kesalahpahaman dan stereotype.

    Terutama di media seperti film Not Without My Daughter yang ditonton Lorena baik saat masih di kelas 10 dan ketika dia akan lulus SMA.

    Suatu saat, guru Lorena memberi tugas membuat sebuah esai bebas tentang keluarga. Lorena kemudian mencoba mencari dampak agama terhadap sebuah keluarga.

    Dia memilih topik tersebut karena telah mengumpulkan informasi soal Islam dari Internet. Lorena pikir ini akan menjadi kesempatan sempurna untuk belajar lebih banyak tentang agama Islam saat membuat esai tersebut.

    Saat menggarap esai tersebut, Lorena begitu tertarik dengan Islam sehingga di setiap kesempatan dia selalu membaca tentang agama tersebut.

    Saat selesai menulis esainya, Lorena terkejut dengan hasilnya. Dia tidak hanya menulis tentang kehidupan keluarga muslim tapi agama Islam secara keseluruhan.
    Esai Lorena bahkan telah membantu gurunya dalam melihat Islam secara benar dan mendetail. Esai yang ditulisnya membahas secara rinci bagaimana media telah salah dalam menafsirkan Islam.

    Salah satu bahasan yang paling disukainya adalah betapa Islam selalu mengajarkan bahwa Tuhan itu hanya satu yakni Allah yang tidak beranak atau dipersekutukan dengan yang lain.

    Dia juga merasa kagum bahwa Alquran masih dalam bentuk aslinya dan tidak berubah selama 1400 tahun.

    Bagi Lorena, Islam telah membuka pandangannya tentang konsep Tuhan, manusia dan alam semesta. Jadi, setelah mempelajari Islam, Lorena seakan mendapat semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan selama ini.

    Lorena sudah tidak punya cara lain untuk berbalik karena semua jawaban sudah ada di depannya. Maka, setelah banyak merenung dan belajar Islam, Lorena memutuskan menjadi mualaf pada Januari 2002.

    Lorena tahu masih banyak yang harus dipelajari, termasuk cara salat. "Islam adalah agama yang paling berharga dan indah, dan alhamdulillah aku sangat beruntung telah diberikan hidayah," katanya.

    (Sumber: OnIslam.net)

    Pria Australia Peluk Islam karena `Kaya Toleransi`

    Zarif sangat kagum dengan budaya Islam yang tergambar dalam istana Alhambra yang sekarang menjadi gereja.
    Rindu Ke Baitullah - Perjalanan pria Australia, Zarif Aarif dalam mengenal Islam bermula saat mengunjungi Maroko dan Granada di distrik Andalusia di masa mudanya.

    Zarif sangat kagum dengan budaya Islam yang tergambar dalam istana Alhambra yang sekarang menjadi gereja.

    Ketika beranjak dewasa, Zarif diterima di sekolah Alkitab di Tabor. Di sinilah dia bisa melakukan studi tentang agama lain, termasuk Islam.

    Selama menjadi mahasiswa di sekolah agama tersebut, muncul banyak pertanyaan mengenai agamanya. Namun Zarif tidak pernah mendapat jawaban yang pasti dan memuaskannya.
    Setelah beberapa lama, Zarif memutuskan keluar dari sekolah tersebut dan bekerja di sebuah perusahaan investasi di Jeddah dan Riyadh.

    Di dua kota tersebut, Zarif tertarik untuk belajar tentang Islam. Dengan begitu, dia bisa melihat perbedaan antara keyakinannya dengan Islam. Syukur-syukur jika ada yang bisa menjawab semua keraguannya selama ini.

    Merasa kutu buku, Zarif menyempatkan diri ke sebuah toko buku Islam di dekat hotel dan membeli beberapa buku. Beberapa hari kemudian dia meminta asistennya, Mahmoud, untuk mencarikan salinan Alquran.

    Dengan bimbingan seorang guru, Zarif diberi pemahaman soal isi Alquran melalui sebuah terjemahan. Setelah itu, Zarif mencoba untuk membacanya sendiri dan dia berdoa agar dituntun dalam mempelajari Alquran. Ayat pertama yang dibacanya adalah tentang orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).

    Zarif begitu kagum dengan Islam. Selain toleransi, agama ini juga inklusif terhadap agama yang dianggap berlawanan. Zarif terus membaca dan mempelajari Alquran.

    Setelah tujuh tahun berlalu, Zarif berkenalan dengan seorang muslimah asal Indonesia. Dengan muslimah ini, Zarif terus menjalin kontak dan sekaligus mempelajari Islam semakin dalam.

    Saat berkunjung ke Indonesia, Zarif melamar muslimah tersebut dan ketika kembali ke Australia, mereka menikah. Meski menikah beda agama, Zarif sangat menghormati keyakinan istrinya.

    Zarif mencoba beradaptasi dengan istrinya. Namun beberapa bulan kemudian, Zarif merasa bahwa pendekatan yang dilakukannya untuk menyisihkan perbedaan agama dalam pernikahannya tidak bisa bertahan lama.

    Zarif pun terombang-ambing antara mempertahankan pernikahan beda agama atau meninggalkannya. Selama berbulan-bulan, dia berdoa untuk meminta petunjuk. Hingga suatu saat dia sudah mantap untuk memeluk Islam.

    Ia merasa tidak ada alasan untuk memeluk Islam selain mempertahankan pernikahan dan kemauannya sendiri. Karena dia sudah belajar Islam dan Alquran sejak lama. Hanya selama ini dia merasa malas berdoa.

    Jadi, Zarif mulai menjalankan komitmennya dan belajar untuk salat. Setelah beberapa bulan kemudian, dengan ditemani istrinya, Zarif ke Masjid Perth untuk mengucapkan kalimat syahadat.
    "Itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Aku sekarang masih terus belajar dan menemukan kemudahan," kata Zarif. "Memang benar. Salat adalah doa yang lebih mendalam dan saya merasakan perasaan memiliki (agama) yang begitu besar."
    (Ism, Sumber: OnIslam.net)

    Liburan 'Hidayah' Bawa Wanita Australia Ini Peluk Islam


    Islam telah menariknya lebih dalam dan dorongan itu tidak mampu ditolaknya.

    Rindu Ke Baitullah - Bagi Aisha, perjalanannya menuju Islam masih belum tuntas. Meski telah menjadi mualaf, wanita kelahiran Melbourne, Australia ini merasa belum lengkap karena masih takut memakai hijab di tengah keluarga dan komunitasnya.

    Aisha adalah tipe orang yang selalu ingin tahu segala hal. Setelah lulus kuliah, perempuan penyuka filosofi dan ilmu alam ini pergi berlibur ke Nepal dan India. Di sinilah dia mulai melihat bahwa manusia itu sama.

    Saat kembali dari berlibur, Aisha ingin mengabdikan diri dalam dunia sosial. Maka dia mendaftar di pelatihan pekerja sosial.

    Setelah lulus, dia mulai bekerja di berbagai komunitas yang berbeda. Aisha bekerja dengan orang-orang yang terpinggirkan secara sosial, orang-orang cacat dan yang berisiko terjerumus dalam kriminalitas.

    Kemudian, Aisha mulai bekerja dengan komunitas Arab di Melbourne dan memiliki banyak teman muslim. Namun mereka tidak pernah menyinggung soal agama Islam.

    Aisha bekerja bersama mereka selama 4 tahun dan memutuskan untuk pergi liburan ke Timur Tengah agar bisa mengenal budaya mereka secara mendalam. Selama liburan 6 bulan, Aisha keliling Timur Tengah dan mulai mengenal sedikit-sedikit tentang Islam.

    Aisha sering berdiskusi tentang Islam dengan orang-orang yang ditemuinya di sana. Namun Aisha merasa sulit mengubah dirinya menjadi seorang muslim, meski dia tidak bisa mengalihkan perhatian dari Islam. Islam telah menariknya lebih dalam dan dorongan itu tidak mampu ditolaknya.

    Pesona Islam begitu kuat dan terasa alami karena dia sudah sering melihat kehidupan yang mirip ajaran Islam sebelumnya. Islam adalah apa yang dicarinya di sepanjang hidupnya. Islam tidak mengenal kelas sosial, semua manusia sama.

    Setelah kembali dari berlibur di Timur Tengah, Aisha belum memutuskan memeluk Islam atau tidak. Namun pada 11 Agustus 2009, Aisha memutuskan menjadi mualaf dan merasa itu sesuatu yang terindah dalam hidupnya.

    Dengan menjadi mualaf, Aisha merasa lebih dekat dengan Allah. Dia bisa melihat dunia dengan lebih jelas dan memiliki tujuan hidup. Aisha merasa menjadi perempuan yang kuat yang tahu kodratnya.

    Aisha sebenarnya suka memakai hijab sewaktu masih di Timur Tengah. Namun dia belum berani memakainya karena takut dengan keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Dia merasa dikucilkan.
    Namun Aisha merasa sedikit terhibur saat adik perempuannya mengatakan dia tidak keberatan dengan keputusan Aisha selama itu membuatnya bahagia.

    "Sangat sulit, karena aku sekarang merasa seperti minoritas. Tapi aku tahu dalam hati bahwa Allah selalu bersamaku dan setiap kali aku takut, aku mengingatkan diriku bahwa Allah yang membawaku ke Islam," ujar Aisha. (Dram.co.id)

    Kagumi Hijab dan Quran, Wanita Amrik Ini Jadi Mualaf

    Saat Mary membaca Surat Al-Noor, hatinya begitu tersentuh. Meski hanya membaca terjemahannya, kebenaran Allah dan Alquran menjadi jelas baginya.
    Rindu Ke Baitullah - Mary, seorang wanita Amerika, dibesarkan dalam keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Lahir di Oklahoma, Mary sangat menganggap penting agamanya.

    Setelah lulus sekolah menengah atas, Mary ingin melanjutkan kuliah. Namun kedua orangtuanya bercerai sehingga dia gagal masuk universitas.

    Beruntung, dia masih bisa sekolah di sebuah sekolah tinggi lokal. Usai lulus, Mary menikah, punya anak, dan bercerai. Kemudian dia menikah dan lagi-lagi bercerai. Setelah perceraian keduanya, Mary memutuskan ikut audisi beasiswa ke University of Tusla. Mary akhirnya diterima di kampus dekat rumahnya itu.

    Mary sangat senang karena dia punya banyak teman internasional dan bisa membaca segala buku sepuasnya di perpustakaan universitas. Sambil kuliah, Mary mengajarkan writing. Di sinilah Mary bertemu dengan muslim untuk pertama kalinya.

    Gadis-gadis muslim asal Malaysia yang menjadi murid writing Mary begitu sopan santun dan ramah tamah. Setiap jam-jam tertentu, para mahasiswi Malaysia itu minta izin untuk menunaikan ibadah mereka.

    Mary berpikir agama mereka pasti agama yang baik karena mampu memberi efek kehidupan yang positif kepada penganutnya.
    Mary juga senang melihat para mahasiswi Malaysia itu saat mengenakan kerudung. Namun Mary mengira bahwa kerudung itu adalah budaya orang-orang Malaysia.

    Saat mengajar para mahasiswi Malaysia itu, Mary tiba-tiba merasakan sakit pada kepalanya. Selama bertahun-tahun, Mary memang punya penyakit migrain. Akibatnya, Mary tidak ke kampus karena kepalanya sangat sakit dan dia harus minum obat berdosis tinggi.

    Mary sebenarnya sudah tidak kuat lagi untuk minum obat-obatan tersebut. Selama sakit dan terbaring itulah Mary merasakan kebaikan muslim yang sebenarnya dari para mahasiswi Malaysia itu.

    Mary sengaja tidak mengunci pintu kamarnya agar para mahasiswi itu bisa belajar bahasa Inggris atau writing. Mereka kadang membawakan makanan atau masak sup untuk Mary.
    Suatu saat, Mary bertanya kepada Aminah, salah satu mahasiswi Malaysia, tentang agama Islam. Tidak ingin Mary mendapat informasi yang salah soal Islam, Aminah minta bantuan Mahmoud dari Oman. Mahmoud hanya bisa menjawab beberapa pertanyaan karena dia harus masuk kelas writing.
    Hari berikutnya, Mahmoud membawa Saif dari Yaman dan mereka berdua bergantian menjawab segala pertanyaan tentang Islam dari Mary.

    Selain kedua pemuda tersebut, Mary juga dikenalkan kepada Tariq, Khalid serta Yousif. Mereka akhirnya menjadi murid Mary di kelaswriting.
    Selama menjadi guru writing bagi pemuda-pemudi muslim itu, Mary melihat ikatan persaudaraan yang kuat di antara mereka. Mary akhirnya minta Saif sebuah buku tentang Islam untuk dibaca-baca.
    Buku tentang status wanita dalam Islam yang diberikan Saif begitu menyentuh perasaan Mary. Dia jadi tahu bahwa Islam sangat menjunjung tinggi wanita.

    Mary kemudian meminta Saif Alquran dan terjemahannya dalam bahasa Inggris. Dari kitab inilah, Mary mengakui bahwa dia sedang membaca kata-kata Tuhan. Saat Mary membaca Surat Al-Noor, hatinya begitu tersentuh. Meski hanya membaca terjemahannya, kebenaran Allah dan Alquran menjadi jelas bagi Mary.

    Meskipun masih merasakan sakit kepala, Mary tetap berdoa kali ini dengan menyebut kata Allah. Setelah berdoa, Mary merasa mengantuk dan tertidur. Tapi saat bangun keesokan harinya, sakit di kepalanya mendadak hilang dan Mary sangat bersyukur. Tanggal 8 November 1994, Mary akhirnya memeluk Islam dengan bimbingan Saif. (Dream.co.id)

    Masuk Islam, Mualaf Ini Produktif Menulis Buku

    Salahuddin @Hidayatullah


    Michael Decero yang kini bernama Salahuddin mengenal Islam di tahun 2012. Ketika itu, ia diberondong pertanyaan oleh seseorang yang ingin dicurhatinya bahwa ia telah salah memilih Islam.

    Ternyata, muslim Afro-Amerika yang dijadikan labuhan kegundahannya adalah mantan pemeluk Kristiani. Sehingga, alih-alih bertanya, Michael justru diberondong banyak pertanyaan olehnya. Alhasil, ia pulang dengan menyimpan banyak pertanyaan tentang Jesus, Gereja, Maryam dan sebagainya.

    Kegundahannya itu pun sembuh secara perlahan dengan membaca al-Qur'an. “Aku mulai membaca al-Qur’an dan setidaknya aku harus membaca dua kali setiap satu baris. Aku membaca Sirah Nabawiyah, dan hadis yang benar-benar aku cintai. Aku mulai menelusuri bagaimana cara Muslim beribadah,” jelasnya antusias.

    Dalam perenungannya, ia sadar bahwa doktrin Kristen yang dia anut bukanlah berasal dari Injil, tetapi atas bentukan gereja tempat ia menjalankan ibdahnya dahulu. Ia mulai menyesali kehidupannya yang habis dalam ketidakjelasan sepanjang 8,5 tahun itu.

    Sosok yang mengucap syahadat pada pukul 12 malam ini mengaku, “Sekarang aku adalah seorang Muslim dan aku merasa seperti seorang bayi yang baru lahir, dan aku harus mempelajari segala hal lagi.”

    Muslim yang cukup terkenal di senatero Amerika dan Eropa ini juga menyebutkan kegigihannya dalam memelajari Islam. Sebagaimana dikutip Hidayatullah, sosoknya merupakan pecinta ilmu. Hingga kini, ia sudah menulis tiga buku tentang Islam. Buku pertama berjudul Yesus di Dalam Injil dan al-Quran. Buku kedua Muhammad dalam Injil. Dan buku ketiganya berjudul Apakah Yesus Berkata Bahwa Aku adalah Tuhan?

    Ia mengaku senantiasa meminta pertolongan kepada Allah Swt agar diberi kekuatan dan hidayah untuk bertahan dan memelajari Islam secara mendalam. Ia juga rajin megikuti kajian dan belajar Bahasa Arab secara intensif.

    Seiring berjalannya waktu, sosok yang kini memelihara jenggot sebagai bentuk menjalankan sunnah ini mengaku bisa menggunakan ilmu yang dia dapatkan selama 8,5 tahun tentang Kristiani untuk menyedarkan orang-orang Kristen, “Islam sudah mengubah hidupku menjadi seseorang yang kuinginkan. Allah Swt memberikanku waktu untuk mempelajari Kristianitas selama 8,5 tahun dan menggunakannya untuk membawa non-muslim menjadi Muslim,” [bahagia/hdy]

    Takjub dengan Alquran, Pemuda Belanda Jadi Mualaf

    Sebagai anak remaja pada umumnya di Barat, Ismail suka minum, berpesta dan melakukan hal lainnya.


    Rindu KeBaitullah - Ismail adalah seorang warga Belanda yang menyukai masalah politik dan agama. Dia bahkan menyebut kegemarannya belajar politik dan agama membawanya menuju jalan yang benar, Islam.

    Sebagai anak remaja pada umumnya di Barat, Ismail suka minum, berpesta dan melakukan hal lainnya. Kehidupan agama Ismail biasa-biasa saja meski dia dibesarkan di lingkungan keluarga yang religius.

    Setelah beberapa waktu, Ismail mulai tertarik dengan agama. Dia memiliki koleksi buku agama yang banyak. Namun semakin dia membaca koleksi buku dan kitab agamanya, Ismail malah susah untuk memahaminya. Bagi Ismail, semua yang tertulis saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya.

    Hingga akhirnya Ismail membaca buku Islam karya Sheikh Ahmed Deedat. Menurut Ismail, buku Sheikh Ahmed tentang Islam dan Alquran telah memberinya pencerahan tentang Tuhan dan alam semesta. Tidak hanya itu, Ismail juga mulai mempertanyakan tujuan dirinya berada di dunia ini.

    Penggambaran Islam yang cenderung negatif di media memacu Ismail untuk mencari tahu dengan cara lainnya. Dia mulai membaca buku-buku tentang Islam dan Nabi Muhammad. Menurutnya, buku-buku tersebut penuh inspirasi dan menarik.

    Semakin banyak dia memiliki pengetahuan tentang Allah dan Islam, semakin dalam dia ingin memujanya. Bagi Ismail, Islam adalah agama yang memiliki aturan lengkap. Islam bisa memberi kepastian dan kedamaian. Dan yang paling menyenangkan dari Islam adalah agama ini memberikan jawaban dari semua pertanyaan, tentang kehidupan yang selama ini dicarinya.

    Sejak itu, Ismail sedikit demi sedikit mempraktekkan ajaran Islam secara sembunyi-sembunyi. Dia mulai salat sekali sehari, dua kali sehari, hingga akhirnya lima kali sehari. Ismail juga mulai menjalin kontak dengan sesama muslim di lingkungannya.

    Akhirnya, Ismail merasa sudah saatnya untuk mengungkapkan jati dirinya sebagai Muslim dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid. Ismail teringat sehari sebelum pergi ke masjid untuk mengucapkan syahadat. Dia masih diliputi kebimbangan. Saat itu hatinya membisikkan apa ini terlalu cepat? Apa ini jalan hidup yang benar?

    Namun Ismail menganggap itu hanyalah godaan setan yang tak ingin dirinya menjadi muslim. Maka keesokan harinya dengan diantar teman-teman muslim lain, Ismail mengucapkan syahadat di masjid.

    "Saya sekarang benar-benar senang dengan agama baru saya. Saya tidak akan menjualnya, meski ada yang memberi satu miliar dolar sekalipun! Hal terbesar dalam Islam, yang memberi saya kekuatan adalah tauhid, penyerahan total dan lengkap kepada Allah."

    Dengan Islam, Ismail menemukan semua jawaban tentang kehidupan dalam Aquran. "Kitab ini sangat sederhana dan indah." (Dream.Ism, Sumber: On Islam)

    Sebelum Masuk Islam, Wanita yang Mau Bunuh Diri Ini Menangis Saat Dengar Adzan


    Aubie dilahirkan di utara Toronto. Meski punya dua orang saudara, gadis Kanada ini merasa sering kesepian dan bermain sendiri. Ia juga punya imajinasi yang besar, sehingga pada usia 4 tahun telah bertanya tentang Tuhan yang tak terjawab oleh orang tuanya.

    Aubie merasa mendapatkan perhatian ibunya hanya pada hari Minggu. Karena di hari itu, mereka bersama-sama pergi ke gereja.

    “Aku dulu suka pergi ke gereja, mendengarkan khotbah dan menatap salib besar,” kata Aubie saat menceritakan kisah nyata perjalanannya menemukan hidayah, di OnIslam.net, Kamis (20/3).

    Memasuki masa remaja, Aubie menjadi suka memberontak. Perlakuan kasar sang ayah dan kurangnya perhatian ibu membuatnya mulai membenci keluarganya. Sebagai pelarian, Aubie banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Dan mulailah Aubie bersinggungan dengan minuman keras dan obat-obatan.

    Untunglah, fitrah Aubie masih cukup dominan. Saat berusia 18 tahun, ia terdorong untuk menjadi relawan pemerintah. Pilihannya ini juga menjadi solusi baginya untuk berpisah dengan keluarganya yang ia rasa tidak mempedulikannya.

    “Aku meninggalkan rumah ketika aku berusia 18 tahun dan bepergian dengan sekelompok relawan yang disponsori pemerintah selama satu tahun,” imbuhnya.

    Sekembalinya ke rumah, Aubie masuk ke perguruan tinggi sambil bekerja di instansi pemerintah yang menangani anak-anak bermasalah.

    “Selama aku bekerja di dua instansi pemerintah yang berbeda, aku melihat semua jenis anak-anak dilecehkan dan rusak. Ini benar-benar membuat jiwaku menderita.”

    Beban berat yang dirasakannya membuat Aubie yang saat itu telah berusia 25 tahun menjadi depresi.

    “Satu malam di musim semi, aku memutuskan untuk bunuh diri. Aku menyiapkan kamar mandi dengan handuk dan berlari menuju air panas di wastafel. Aku mengambil pisau tajam dan mencoba mengiris pergelangan tanganku. Keluar sedikit darah. Tiba-tiba aku berteriak kesakitan dan rasa takut menghinggapiku. Aku takut pada Tuhan bahwa aku telah menyerah,” katanya menceritakan upaya bunuh diri.

    Hari Minggu, Aubie kembali ke gereja. “Aku menangis setiap hari Minggu selama satu bulan, dan kemudian aku mulai belajar mendalami ajaran Kristen di Gereja Anglikan.”

    Pada 11 September 2001, seluruh dunia seakan berubah bagi Aubie. “Aku sangat terkejut dan ngeri . Aku merasa seolah-olah Tuhan menamparku. Peristiwa itu tak pernah dapat dibayangkan sebelumnya. Aku pun takut, seperti orang lain. Lalu aku mulai bertanya-tanya tentang apa dikatakan media.”

    Sebagai seorang wanita yang kritis, Aubie tidak percaya begitu saja dengan media. Terlebih, ia memiliki teman-teman muslim yang sama sekali berbeda dengan apa yang disuguhkan media.

    “Aku melihat teman-temanku yang Muslim di tempat kerja. Mereka orang-orang baik, bukan teroris. Aku mulai berbicara dengan mereka. Pada awalnya, aku tertarik pada aspek geopolitik apa yang sedang terjadi. Mengapa "mereka" membenci" kita? Kemudian aku menemukan apa yang dilakukan pemerintah Barat di Timur Tengah dan Afrika Utara selama berabad-abad. Tidak heran mereka membenci kita” ujarnya.

    Aubie kemudian melakukan penelitian tentang Islam. “Ide-ide Islam mulai merayap ke dalam pikiranku. Aku mencari orang-orang yang bisa membantuku di daerah ini. Alhamdulillah, akh Mohamed Saffie bersedia mengajariku bahasa Arab dasar.”

    Semakin mempelajari Islam, Aubie semakin tertarik. Terlebih setelah ia mendapatkan terjemahan Qur’an dalam bahasa Inggris dari Quran.

    “Aku sangat menarik dengan kitab ini. Rasanya seperti kata-kata aku cari selama ini,” tambahnya.

    Dalam masa meneliti Islam itu, Aubie mendengarkan adzan dari sebuah masjid di daerah yang ia kunjungi. Entah mengapa, ia tiba-tiba menangis saat mendengar panggilan shalat tersebut.

    “Perasaanku seperti bercampur antara kegembiraan dan kesedihan. Aku hanya ingin menangis dan menangis…”

    Pada tahun itu, 2003, Aubie pun bersyahadat. Namun, secara terbuka ia baru memproklamirkan diri di Masjid Damaskus pada 1 Januari 2006. Dalam rentang masa itu ia dibimbing oleh ulama Masjid Toronto Imam Hamid Slimi.

    Menjadi mualaf bukan hal yang mudah bagi Aubie. Ia mendapat penentangan dari keluarga, teman dan lingkungannya. Ia kembali menjadi terasing, bahkan bias lebih terasing dari masa kecilnya. Ia ditertawakan, dicemooh dan dimaki. Kendati demikian, Aubie yang telah mendapatkan nama Islam Noor Aubie tetap teguh dalam keislamannya. “Sebab aku tahu apa yang benar,” tegasnya.

    Nama Noor pada Noor Aubie, menurutnya diambil dari surat An Nur, khususnya ayat ke 35. Subhanallah. [IK/bersamadakwah]

    Kisah Carissa, Penulis Asal Amerika yang Masuk Islam Karena Jilbab

    Banyak wanita Amerika Serikat yang mengenakan jilbab setelah menjadi mualaf. Namun, tidak demikian dengan Carissa D. Lamkahouan. Ia telah mengenakan jilbab sebelum masuk Islam. Dan dari pengalamannya yang unik tentang jilbab itu, ia kemudian bersyahadat.

    Seperti dirilis onislam pada pekan lalu, Carissa menuliskan kisahnya. Selama hampir satu setengah tahun, Carissa mempelajari agama Islam, prinspi-prinsip dan karakteristiknya. 

    “Tentu saja, sebagai seorang wanita, saya sangat tertarik terutama pada isu-isu perempuan. Dan jilbab sebagai identitas muslimah yang khas, membuat saya sangat tertarik,” tuturnya. 

    Dan entah mengapa, Carissa menemukan dirinya terpesona dengan wanita yang mengenakan jilbab.

    Seiring berjalannya studi Islam-nya, Carissa rajin pergi ke toko buku dan membaca dengan teliti referensi Islam dalam versi bahasa Inggris. Baik Al Quran, hadits maupun kisah-kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dan pada suatu hari, ia menemukan jilbab di barisan abaya. Carissa yang tertarik dengan benda itu kemudian menemukan keberanian untuk mencoba. 

    “Itu penutup kepala pertama yang saya beli,” kenangnya.

    Ketika memakainya untuk pertama kali, Carissa merasakah sesuatu yang aneh.

    “Saya melihat sekilas diriku di cermin, terus terang saya terkejut dengan kain hijau di atas kepalaku itu. Saya melihat bayangan saya sebagai orang yang berbeda, asing. Ada stereotif negatif dalam bayangan wanita berjilbab seperti digambarkan oleh media,” tambahnya. 

    Namun, itu tidak berlangsung lama. Carissa dengan cepat kembali ke alam rasionalnya. “Bahwa saya membelinya untuk dipakai jika saya perlu untuk pergi ke masjid,” katanya dalam hati, mengingat tujuannya untuk mempelajari Islam lebih dalam dengan mengunjungi masjid-masjid.

    “Sekarang saya menyadari bahwa membeli jilbab saat itu adalah langkah awal saya mendapatkan hidayah,” tuturnya. 

    Beberapa bulan berlalu. Namun Carissa belum mendapatkan kesempatan untuk memakai jilbab itu seperti rencananya. Di samping, ia tidak terlalu suka dengan warna dan model jilbab tersebut. Hingga kemudian, ia pun membeli jilbab yang ia sukai saat kembali ke toko buku.

    Carissa kemudian mulai memakai jilbabnya dalam berbagai kesempatan. Saat berkunjung ke toko makanan halal, saat ke toko buku, dan beberapa kesempatan yang lain, ia menutup rambutnya dengan jilbab. Hingga suatu malam, ia pergi bersama sang suami dengan memakai jilbab. Di situlah perubahan besar terjadi.

    “Aku merasa aman dan nyaman. Aku tak lagi mendapati pandangan laki-laki menganggu yang tertuju padaku.”

    Carissa pun makin terbiasa memakai jilbab. Dan seiring semakin dalam ia mempelajari Islam, akhirnya ia juga memutuskan untuk bersyahadat.

    Kini Carissa merasakan martabat dan kemuliannya sebagai wanita dengan jilbab sebagai mahkotanya. Ia tak lagi takut digoda lelaki, dan lebih dari itu, ia menyadari bahwa memakai jilbab adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. [IK/bersamadakwah]

    Perjalanan Berliku Wanita Yahudi Masuk Islam

    Sejak menjadi mualaf, ia langsung mengenakan hijab hingga sekarang.

    Rindu Ke Baitullah  - Sharon adalah seorang wanita Yahudi yang memutuskan menikah dengan seorang pria muslim. Pernikahannya tentu mendapat penolakan keras dari keluarganya.

    Meski dia mengatakan bahwa perselisihan antara Israel dan Palestina hanyalah karena politik, bukan karena Islam, namun keluarganya bersikukuh bahwa Sharon telah menikah dengan seorang musuh.

    Saat menikah, Sharon tetap menganut agamanya, sementara suaminya yang Afrika-Amerika adalah seorang muslim. Meskipun Sharon tidak diminta untuk menjadi seorang muslim, suami Sharon memberinya ‘dakwah’ diam-diam berupa teladan yang sangat baik.

    Suami Sharon memiliki literatur tentang Islam yang sangat banyak dan Sharon sering membaca-baca buku tersebut.

    Selain itu, Sharon juga sering mengamati perilaku suaminya seperti tekun dalam menjalankan saalat lima waktu, pergi salat Jumat dan berpuasa selama bulan Ramadan. Jadi wajar jika Sharon juga ingin mempelajari agama suaminya itu.

    Setelah satu tahun menikah, Sharon diajak suaminya untuk menghadiri pengajian di sebuah masjid untuk pertama kalinya.

    Sebelum berangkat, Sharon diminta mengenakan baju yang pantas dan sopan. Setelah sampai di masjid, suami Sharon menunjukkannya ruang khusus untuk jamaah perempuan.

    Saat di dalam, Sharon melihat begitu banyak perempuan muslim sudah hadir di sana. Hampir semuanya memiliki penutup di kepala mereka. Kemudian salah satu dari mereka menghampiri Sharon dan menyapanya. Dia bernama Basimah.

    Singkat cerita keduanya berteman baik. Basimah juga selalu bercerita tentang Islam dan Allah kepada Sharon. Sampai akhirnya hidayah datang, Saron mengucapkan dua kalimat syahadat.

    "Dia mengatakan bahwa aku akan terlahir kembali, seperti bayi yang baru lahir, tanpa dosa. Aku bersimpuh dan menangis. Aku ingin kesempatan lain untuk mendapatkan hak dengan Allah. Anda lihat, aku punya masa lalu yang sangat kotak-kotak. Aku selalu mencintai Tuhan, tapi aku tersesat dalam hidup," kata Sharon.

    Setelah mengatakan syahadat, Sharoon diberi hadiah berupa sebuah buku petunjuk menjadi muslimah yang baik oleh Basimah. Sahabatnya itu juga memberi ia sajadah, abaya, dan hijab. Bahkan sejak itu, Sharon langsung mengenakan hijab hingga sekarang.

    Bagi Sharon, agama Islam adalah untuk semua orang dan untuk semua waktu. Seharusnya tidak masalah apakah muslim itu orang Mesir, Pakistan, Amerika, Arab, Indonesia, atau Palestina.

    Seharusnya tidak peduli apakah dia adalah kulit hitam, putih, merah, atau kuning. Seharusnya tidak masalah apakah dia berbicara bahasa Arab, Inggris, Spanyol, atau Urdu. "Keanekaragaman budaya tidak seharusnya memecah belah umat Islam," kata dia.

    (Ism, Sumber: Onislam.net.Dream.co.id)

    "Kalau Kamu Masuk Islam, Lebih Baik Mama Mati"

    Menjadi seorang mualaf menjadi kenyamanan tersendiri untuk wanita cantik pemilik nama Isya Jeeperson ini. Walaupun menerima cacian dan pemberontakan dari keluarga besar, hati Isya tetap mantap mualaf.
    Rindu Ke Baitullah - Menjadi seorang mualaf menjadi kenyamanan tersendiri untuk si cantik pemilik nama Isya Jeeperson ini. Sejak September 2010, wanita kelahiran Medan, 25 Maret 1992 ini berkomitmen memeluk agama Islam karena ketertarikannya dengan dunia muslim.

    "Ini bisa dibilang hidayah. Aku sangat tertarik dengan bahasa Arab dan semua yang diajarkan dalam agama Islam," kata anak ketiga dari tiga bersaudara ini kepada Dream.co.id saat ditemui di apartemennya kawasan Kasablanka, Jakarta Selatan.
    Dukungan lingkungan yang mayoritas muslim juga membuat Isya makin mantap menjadi mualaf. Juga semakin banyak tahu bagaimana Islam itu. "Sekitar bulan sembilan empat tahun lalu alhamdulillah aku resmi muslim," ujar dia.

    Wanita yang lahir dengan nama Marisa Cris Hari Sartika ini mengaku, butuh perjuangan ekstra menjelaskan ke keluarganya di Medan. Penjelasan tentang keputusannya pindah agama.
    Mulanya masih diam-diam. "Soalnya mama aku bilang kalau aku masuk Islam lebih baik mama mati. Aku takut nantinya mama marah, jadi stroke," kata Isya.
    Apalagi saat ini tinggal mama seorang. Kekhawatiran dan ketakutan Isya pun dikalahkan dengan rasa yakin dan hati yang mantap untuk mengatakan kejujuran di depan keluarga besarnya.
    "Mama nangis, diam dan masuk kamar. Tidak sedikit juga keluarga yang berontak supaya aku pindah agama lagi. Tapi walaupun menerima caci-maki aku tetap kuat karena hatiku sudah yakin dan nyaman memeluk Islam," ujar wanita yang disibukan dengan aktivitas di dunia tarik suara ini.

    Mantan model majalan remaja ini mengaku, berkat bantuan Allah dan kegigihannya mendalami Islam, keluarga pun berbalik mendukung. Ibarat pepatah sekeras apapun batu karang akan tergerus sedikit demi sedikit dengan air.

    "Aku percaya kalau Allah akan kasih jalan. Aku semakin yakin dan terus belajar banyak tanya dengan sesama muslim dan guru spiritualku. Nyari-nyari pengetahuan tentang Islam itu lebih detail lagi. Alhamdulillah sekarang mereka mendukung sekali karena lihat aku serius," ungkap pemain film Azrax ini.

    Isya menambahkan dukungan yang diberikan dari keluarga membuatnya semakin mantap menjalani kehidupan sebagai mualaf.
    "Mama cuma pesan harus serius dan yakin dengan keputusan yang diambil jangan sampai agama jadi permainan. Aku makin yakin menjadi mualaf. Bismillah Allah selalu bersamaku," kata Isya.

    Anak dari pasangan almarhum Irian Bakti dan Rosani Ginting ini berharap menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi kebanggaan orang-orang di sekitarnya.

    "Bismillah semoga bisa selalu istiqomah. Semua kebaikan yang diberikan Allah aku berusaha selalu mensyukurinya dengan terus mengingatnya di setiap kondisiku. Karena Allah yang membuatku yakin menjalani hidup," harap Isya. (Ism Dream.co.id)

    Syahadat di Ujung Maut

    Hampir seperempat abad dia menolak Islam. Di ujung ajal, dia mengucap syahadat.
    Rindu Ke Baitullah - Pria renta itu terkulai lemah di atas kasur. Terbujur diam, tanpa gerak. Hanya kelopak mata yang sesekali berkedip. Tubuhnya hanya tinggal tulang terbalut kulit yang sudah keriput. Kurus kering.

    Sejumlah selang tampak terjulur, menembus hidung dan bagian tubuh lainnya. Dari selang-selang medis itulah kakek renta ini bertahan hidup. Mengasup makanan dan membuangnya setelah lewat pencernaan. Dengan kesadaran yang sudah redup.

    Dialah Tuan Green. Kakek sepuh yang tengah meregang nyawa. Pada detik-detik akhir hidup itu, tak tampak sama sekali kegagahan masa jayanya. Tak ada yang menyangka bahwa dia adalah mantan pejabat kolonial Kerajaan Inggris di Kairo, Mesir, dengan jabatan bergengsi: Direktur Cairo Barclays Bank.

    Saat sakaratul maut di rumah sakit itulah, Tuan Green kedatangan tamu. Seorang pria yang sudah 23 tahun dibencinya. Abdur Raheem Green. Anak kandung yang telah lama meninggalkan keyakinan keluarga dan memilih Islam sebagai jalan hidupnya.

    Tuan Green memang sudah membenci Abdur Raheem sejak 1987. Setelah sang putra mengucap Syahadat. Namun, anak lelakinya itu kini datang di saat-saat terakhir. Di ujung hayat sang ayah.

    “Saya memandanginya dan berpikir dia bisa saja meninggal malam itu,” kata Abdur Raheem mengenang masa itu. Kala itu Tuan Green memang sudah dua tahun sakit. Keadaan inilah yang membawa Abdur Raheem jauh-jauh dari London ke Kairo.

    Namun, ada ganjalan hati bagi Abdur Raheem untuk mendekati sang ayah. Di benaknya selalu terbersit pertanyaan, apakah sang ayah sudah memaafkan dirinya. Apakah rasa kecewa Tuan Green sudah sirna akibat keputusannya menjadi mualaf.

    Perang batin yang sudah berpuluh tahun itu memang rumit. Tuan Green tak pernah setuju Abdur Raheem memeluk Islam. Selama 23 tahun itu, dia terus menolak kebenaran Islam. Kebenciannya semakin menumpuk karena hari demi hari anaknya itu berupaya membujuknya masuk Islam.

    Surat, buku-buku, dan bahan apapun tentang Islam yang dikirim Abdur Raheem kepada sang ayah hanya berakhir di tempat sampah. Upaya Abdur Raheem membawa sang ayah ke jalan Islam selama itu gagal total.

    “Saya telah lama memikirkan kapan bisa mengajaknya. Bagaimana mengajaknya? Bagaimana cara yang tepat? Sekarang dia sedang sakit parah, saya tak mau menekannya, membuatnya bertambah sedih,” kata Abdur Raheem yang kini berumur 42 tahun itu.

    Saat itu Abdur Raheem berpikir, inilah kesempatan terakhir untuk mengulang ajakannya. Pria bernama kecil Anthony Vatswaf Galvin Green itu berpikir tidak akan pernah memaafkan diri jika ayahnya meninggal dan belum memeluk Islam. Inilah tugas terakhirnya.

    Namun hati Abdur Raheem tetap gamang. Dia merasa ayahnya telah menutup hati terhadap Islam. Abdur Raheem benar-benar tak punya harapan. “Sungguh saya merasa takut dia berkata tidak, dan menolak ajakan saya,” ucap dia.

    Ini sungguh sulit. Abdur Raheem dalam dilema. Sebagai Muslim, orangtuanya belum masuk Islam. Namun satu hal yang dia pegang, dia tak mau memaksa.

    “Kewajiban kita menyampaikan pesan, untuk menjelaskan kepada orang lain dengan cara sebaik yang kita bisa,” ujar Abdur Raheem.

    Akhirnya, Abdur Raheem kembali mencoba. Dia dekati Green yang tengah terbaring di dipan. “Ayah. Saya punya sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan. Apakah Ayah mendengar?” kata Abdur Raheem mengenang pembicaraan dengan sang ayah kala itu.

    Namun, Tuan Green sudah tak lancar berbicara. Kata demi kata keluar dengan terbata. Napasnya sudah tersengal-sengal. Oleh sebab itu, Tuan Green hanya bisa mengangguk. Dan Abdur Raheem melanjutkan, “Saya punya sesuatu untuk saya katakan. Jika tidak saya katakan, saya akan menyesal.”

    Berdakwahlah Abdur Raheem di dekat telinga Green. Dengan lembut, putra saleh itu bercerita tentang hari akhir dan hari pembalasan. Di ujung cerita, Abdur Raheem mengucap Syahadat.

    “Jadi Ayah, ini kunci ke surga. Ini sukses di hari kemudian, bagaimana menurut Ayah?” tanya dia mengakhiri cerita.

    Mendengar cerita itu, Tuan Green terdiam. Namun beberapa saat kemudian menganggukkan kepala. Abdur Raheem pun kembali bertanya, “Apakah itu artinya Ayah bersedia mengucapkan Syahadat?”

    Dan sang ayah dengan terbata menjawab tanya Abdur Raheem itu. “Ya.” Inilah yang tidak diduga-duga oleh Abdul Raheem. Rasa bahagia berbuncah di hatinya. Setelah hampir dua puluh tiga tahun gagal, kali ini dia berhasil mengajak ayahnya masuk Islam.

    Abdur Raheem langsung membimbing Tuan Green untuk mengucap syahadat. Dengan terbata dan agak kurang jelas, Tuan Green mengikuti kalimat Syahadat yang diucapkan Abdur Raheem. “Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah.” Setelah ayahnya mengucap syahadat, Abdul merasa lega. Tapi dia terpaksa meninggalkan rumah sakit karena jam besuk sudah habis.

    Hari berikutnya, Abdur Raheem kembali datang. Namun dia menjumpai kondisi sang ayah semakin parah. Green tidak bisa mengingat apa-apa. Jangankan mengingat hari kemarin, kejadian sejam lalu saja dia sudah lupa. “Tapi itu bukan akhir segalanya,” tutur Abdur Raheem.

    Pendakwah London ini terus menunggu sang ayah di rumah sakit. Enam hari telah berlalu setelah sang ayah mengucap Syahadat. Namun, kondisi Tuan Green tak kunjung membaik. Abdur Raheem yang tetap setia di samping ranjang mendengar ayahnya merintih. “Tolong, tolong saya,” kata Abdur Raheem menirukan rintih ayahnya.

    Abdur Raheem pun panik. Bingung apa yang harus dilakukan. Segala obat-obatan, oksigen, didekatkan ke ranjang. Abdur Raheem pun kembali bertanya, “Ayah, Ayah ingin saya melakukan apa?”.

    “Saya tidak tahu,” jawab Tuan Green. “Ajarkan saya sesuatu yang mudah dilakukan,” tambah dia dengan terbata.

    Lantas, Abdur Raheem ingat hadis Nabi yang tentang Syahadat. Kalimat yang ringan di lidah namun punya efek luar biasa. “Sehingga saya berkata, jika saya menjadi Ayah, saya akan terus mengulang Syahadat,” kata Abdur Raheem.

    Mendengar itu, Tuan Green pun menjawab, “Ya, itu yang ingin saya lakukan.” Setelah itu, bapak dan anak itu bersama-sama mengucap syahadat selama satu setengah jam.

    Kondisi Tuan Green kemudian membaik. Abdur Raheem memperkirakan sang ayah bisa segera dibawa pulang ke rumah. Oleh karena itu, dia meningalkan sang ayah bersama ibunya untuk kembali ke Inggris. Sebab, ada urusan yang tak bisa dia tinggalkan.

    Namun, beberapa hari kemudian, berita buruk itu datang. Sang ibu menelepon mengabarkan bahwa Tuan Green telah wafat. Tepat sepuluh hari setelah dia pertama mengucap Syahadat.

    “Dia meninggal sebagai seorang yang beriman. Silakan berdoa untuk dia,” kata Abdur Raheem.

    Namun, Abdur Raheem tak larut dalam kesedihan. Sebab, sang ibu yang semula juga kukuh menolak Islam memutuskan untuk mengucap Syahadat, mengikuti jejak sang ayah.

    Ya, Tuan Green yang telah menolak Islam selama hampir seperempat abad itu telah meninggal. Satu hal yang disyukuri Abdur Raheem, ayahnya bersyahadat sepuluh hari sebelum ajalnya tiba.

    “Kematian ayah saya ingin saya ceritakan kepada Anda, dan intinya, sepuluh hari sebelum dia meninggal, dia mendapat rahmat mengucapkan Syahadat,” tutur Abdur Raheem.

    Tak ada kata terlambat. Itulah yang diucapkan Abdur Raheem. Dia selalu menjadikan pengalaman pribadinya itu setiap kali berdakwah. Bahwa hidayah Allah bisa datang kapan saja. Bahkan ketika maut sudah begitu dekat. (eh. Dream.co.id)

Sastra Islami