Samara

Informasi Haji dan Umrah

    Taman Itu Bernama Keluarga



    Rindu Ke Baitullah - Sepuluh menit ini semoga menjadi waktu yang berharga untuk berbagi hikmah. Hikmah tentang kehidupan dan tentang hati yang bahagia dan sedihnya sudah diatur sedemikian rupa dengan indah oleh Allah swt. Ada perasan bahagia yang selalu terpancar dalam hati, saat seorang hamba menyerahkan seluruh urusan hidupnya hanya pada-Nya, sang Khalik yang tak pernah sekejappun meninggalkannya. Banyak hikmah terserak, begitu nikmat dan bahagianya, bahkan akan menjadi lebih nikmat saat mata ini masih bisa menteskan airnya. Pengaturan Allah itu indah. Yakinlah. Semua kehendak-Nya adalah kebaikan untuk hamba-Nya.

    Siapapun, tak terkecuali, Allah berkehendak untuk melimpahkan rasa bahagia, di tengah melintangnya onak-onak duri dan rumitnya mengurai tali kehidupan. Kadang kebahagiaan itu datang dari hal hal kecil yang seringkali diremehkan. Bukankah banyak rangkaian bunga menjadi indah tersusun dari kelopak-kelopak kecil yang secara harmoni bersusun dalam tangkainya. Pernahkah kau tatap indahnya melati, atau sakura yang mempesona, mungkin juga rangkaian anggrek jingga dan putih yang menjuntai nan anggun.

    Demikianlah, kehidupan menjadi seorang istri, menjadi seorang suami, menjadi ibu, menjadi ayah, dalam biduk rumah tangga, selalu menghadirkan rangkain-rangkaian hikmah indah seperti bunga-bunga. Ada saat bunga bermekaran warna warni, ada saat layu, untuk kemudian bersemi kembali. Dalam kokohnya batang, silih berganti bunga itu bermunculan pada sisi yang berbeda dan berpindah, tapi bunga itu akan selalu hadir sepanjang musim, sepanjang masa, sepanjang usia. Meski tangkai yang menyembulkan kelopak bunga itu tak selalu sama. Kokohkan biduk rumah tangga, agar tidak menjadi bunga semusim, kokohkan batang bunga itu, agar bunga itu terus bermunculan.

    Menjadi suami yang selalu bersemangat mencari nafkah, dalam rasa lelahnya akan Allah hadirkan kebahagiaan manakala menatap lembut senyum sang istri mengucap syukur menerima rezeki dengan perantaan keringat suami. Bunga indah di batang tangkai yang satu ,tidak selalu berbarengan dengan tangkai yang lain. Boleh jadi di saat indah menatap senyum mengembang nan indah tadi, pada saat yang sama dihadapkan pada masalah sang buah hati yang mengambek tidak mau sekolah.

    Menjadi istri, di tengah rumitnya mengatur anggaran rumah tangga, Allah hadirkan kebahagiaan menatap indah sapaan lembut suami yang selalu mencintainya. Bertambah mekar keindahan itu menatap takjub melihat sang buah hati dengan bersemangat datang ke masjid untuk berjamaah.

    Menjadi seorang anak dari orang tua yang sudah beranjak senja, di tengah kesabaran yang ekstra berkhidmat memenuhi kehendaknya, Allah hadirkan keberkahan mustajabnya doa tulus orang tua. Tak terbantahkan. Bersabarlah menapaki setiap detiknya menemani kesunyian yang dirasakan orang tua.

    Ya.. selalu ada ruang untuk bahagia, selalu ada ruang untuk bersyukur… selalu ada ruang untuk bermekaran bunga bunga indah dalam taman rumah tangga. Bersyukur.. bersabar selalu silih berganti menjadi hiasan indah dalam kehidupan seorang muslim. Semoga hikmah menghadirkan semangat antusiasme menatap hidup bagi siapapun yang membaca. Semoga taman ini selalu indah bermekaran bunga-bunga. Baiti jannati..

    Ya Rabbi.. karuniakan kepada kami pasangan hidup dan keturunan yang senantiasa menjadi penyejuk mata bagi kami. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang –orang yang bertakwa. Ya Rabbi .. jadikan kami hamba yang senantiasa menegakkan shalat, beserta seluruh anak keturunan kami.

    Ya Rabbi… karuniakan kepada kami kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akherat dan jauhkan kami dari siksa api neraka.
    Aamiin..(dakwatuna.com)

    Menikahlah, Di Sana Ada Cinta dan Barokah

    Anggaplah anda naik motor bersama istri dan dua anak anda. Sebab mobil masuk bengkel. Mungkin, motor anda akan merasa keberatan. Sehingga tidak bisa ngebut seperti ketika anda menaikinya seorang diri.

    Tapi, jika anda menaikinya bersama anak dan istri, akan ada lipatan kebaikan yang bisa didapat. Saling bercanda, menasehati anak sambil meilhat realita, muroja'ah hafalan, ngobrol ringan. Paling penting, jika anda mengantuk, ada istri dan anak yang mengingatkan.

    Nah, jika anda menaikinya seorang diri, maka anda bisa melaju kencang. Tapi, jika mogok anda harus mendorongnya seorang diri. Anda tak bisa pula ngobrol. Emang mau dianggap gila sebab ngobrol dengan angin? Kalau ngantuk, sama sekali tak ada yang mengingatkan anda.

    Alhasil, menikah memiliki banyak kebaikan. Pun, ada banyak catatan yang mesti diantisipasi. Karena memang, jalanan terjal penuh tanjakan-turunan dan onak lebih menantang dibanding jalanan lurus dan tanpa saingan.

    Oleh karena itulah, menikah adalah awal. Anda akan mendapati kehidupan yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Ada cinta, ada juga sedikit benci. Ada banyak nikmat, adapula sedikit uji. Ada canda, tak jarang pula ada marah. Banyak kebaikan, ada juga keburukan yang mengintip dan menggoda.

    Maka, setiap kali melihat, meghadiri atau menyeksamai pernikahan, siapapun dan bagaimanapun, selalulah sisipkan ruang untuk khawatir selain bahagia dan syukur yang mendominasi.

    Sebab dalam upacara sakral itu, ada perjanjian amat besar. Ada ikatan suci nan kokoh. Ada tanggungjawab yang tak bisa dipikul dengan main-main. Ada cinta yang harus dirawat selama mungkin. Bahkan, hingga kau atau pasanganmu mati, dan setelahnya.
    Semoga barokah untuk kita yang telah lama menikah, untuk anda yang baru menikah, utuk siapa yang rindu menikah dan semua yang berniat untuk menjalankan sunnah nabi mulia ini.

    Untuk yang diuji dengan lamanya waktu, tetaplah tersenyum. Sebab Allah tak mungkin salah. Ada kebaikan yang pasti anda peroleh sebab kesabaran yang lama disulam. Bukankah buah sabar adalah surga?
    Ingat pula, menikah hanya setengah. Setengah lainnya ada takwa. Maka, sempurnakan setengah lainnya itu sejak sebelum, ketika dan selepas menikah. Lalu, jadikanlah menikah sebagai sarana untuk semakin kencang melaju dalam takwa. Agar engkai dan pasanganmu semakin dekat dan taat kepada-Nya.

    Tak perlulah risau akan rezeki hingga menyebabkanmu menunda tanpa alasan yang dibenarkan. Sebab rezeki adalah hak mutlak Allah. Dia telah menetapkan-Nya jauh-jauh hari sebelum anda diciptakan. Dia berhak untuk melapangkan maupun menyempitkan untuk siapa yang dikehendaki-Nya.

    Anda cukup berupaya sebaik mungkin, sembari terus berdoa dengan harapan penuh seraya cemas jika tak dikabulkan. Bukankah rezeki erat kaitannya dengan usaha? Amatlah mustahil jika Allah menciptakan namun tak menyertakan rezeki bagi makhluk yang diciptakan-Nya itu.

    Bagi anda yang sudah berusaha sebaik mungkin, namun belum mendapat “hasil’, jangan sampai berburuk sangka kepada Allah. Apalagi, jodoh, mati dan rezeki memang rahasia-Nya. Tetaplah berupaya seraya melayakkan diri.

    Ingatlah selalu, bahwa ada doa dan usaha yang tak langsung dikabul di dunia ini. Adakalanya Allah menunda, kemudian memberi ganti dengan yang lebih baik. Bahkan yang terbaik dan tidak pernah kita sangka.

    Adapula yang benar-benar ditunda dan baru diberikan kelak selepas mati. Maknanya, upaya anda tak ada yang sia-sia. Pun, terkait usaha mendapatkan jodoh. Yakinlah selalu, Allah Mahaadil. Semua yang diberikan atau ditahan-Nya adalah yang terbaik.

    Semoga dengan sabar, Allah menyegerakannya. Dan itu pasti baik bagimu. Jika kemudian Allah menunda, yakinlah selalu akan skenario indah dari-Nya.

    Satu catatan penting, tutup semua pintu penundaan. Sebab mati datang tiba-tiba. Dan, menunda kebaikan sama maknanya dengan sibuk keburukan jika anda tak mencari kebaikan lain yang lebih sempurna.

    Sebab, jika sendiri dan menikah ibarat mengendarai motor, maka ketika anda mengendarainya dengan anak dan istri, ketika di tengah jalan anda merasa pegal sebab jauhnya perjalanan, maka ada yang akan setia memberikan pijitan cintanya. Anda hanya perlu berkata agak keras, agar suara anda tak tertiup angin dan bisa didengan oleh pasangan anda itu, “Mi, Abi pegel nich. Tolong dipijitin ya. Bagian pundaknya saja.”

    Semoga Allah semakin menyangi kita semua, aamiin.[bersamadakwah.com]

    4 Nasehat Nabi untuk Para Suami


    Empat nasehat ini dikutip Syaikh Fuad Shalih dalam bukunya Liman Yuriidu Az Ziwaaj wa Tazawuj. Sebagai ulama dan penulis buku pernikahan, beliau merasa perlu mencantumkan hadits ini agar para suami berbenah diri; tidak hanya menuntut istri mempersembahkan yang terbaik bagi dirinya, tetapi juga ia mempersembahkan yang terbaik untuk istrinya.

    Empat nasehat ini secara khusus mengajarkan suami untuk berpenampilan menarik di rumah. Syaikh Fuad Shalih mengatakan:

    Hal ini diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Cucilah bajumu, rapikan rambutmu, gosoklah gigimu, dan berhiaslah untuk istrimu.”

    Cucilah Bajumu

    Nasehat pertama ini memiliki dua dimensi. Dimensi pertama ada pada proses. Dimensi kedua terletak pada hasilnya.

    Sebagai sebuah proses, “cucilah bajumu” berarti berbagi dengan istri dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan domestik, khususnya bagi keluarga yang tidak memiliki khadimat. Mencuci baju tidak dibebankan kepada istri saja, melainkan suami juga melakukannya. Baik mencuci dengan tangan maupun dengan mesin cuci. Konsep berbagi peran inilah yang diteladankan oleh Rasulullah. Kendati beliau adalah Nabi, pemimpin negara, qiyadah dakwah dan panglima perang, beliau menyempatkan diri untuk membantu istri-istrinya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.

    Ditinjau dari dimensi hasil, “cucilah bajumu” membuat suami tampil dengan pakaian rapi di depan istrinya. Tidak kusut. Tidak menyebalkan.

    Mungkin sebagian suami tidak merasa perlu tampil rapi di hadapan suaminya, terlebih ketika malam tiba. Namun, jika ia menuntut istrinya tampil prima di depannya, mengapa ia tidak menuntut dirinya melakukan hal yang sama? Bukankah Islam menjunjung keadilan? Kita para suami kadang belum juga mengerti bahwa wanita itu tidak selalu mencurahkan perasaannya kepada suami. Ia kadang menyimpannya di hati dan berusaha menyabarkan diri. Saat kita para suami dengan mudah mengatakan “Pakaialah baju yang indah”, para istri hanya menahan sabar melihat kita menghampirinya dengan baju berbau. Mari kita berusaha berubah. Menjadi suami yang lebih rapi di depan istri.

    Rapikan rambutmu

    Ketika berangkat kerja, ketika pergi ke kantor, ketika hendak syuro, ketika mau mengisi pengajian, kita para lelaki yang katanya tidak suka dandan, minimal merapikan rambut. Lalu saat hanya berdua dengan istri, mengapa kita tidak melakukan hal serupa? Bukankah jika begitu kita lebih mengutamakan orang lain daripada istri kita sendiri? Padahal rekan-rekan kerjanya tidak memasakkannya. Teman-temannya juga tak bisa merawatnya ketika ia sakit. Yang setia menemani, yang setia merawat adalah istri. Dan tidak ada orang lain yang bisa menghangatkannya di kala kedinginan kecuali istrinya sendiri. Lalu mengapa kita sebagai suami justru tak bisa tampil rapi saat bersamanya?

    Gosoklah gigimu

    Bau mulut adalah satu hal yang mengganggu komunikasi dan menjadi pembatas kedekatan. Ketika seorang suami tak suka istrinya mengeluarkan bau saat ia berbicara, demikian pula istri sebenarnya tak suka jika suaminya menghampirinya dengan bau yang tak sedap.

    Adalah junjungan kita yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, setiap akan masuk rumah, beliau bersiwak terlebih dahulu. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Bunda Aisyah menjadi saksi kebiasaan Rasulullah ini. Ketika ditanya, “Apa yang dilakukan pertama kali oleh Rasulullah jika dia memasuki rumahnya?” Beliau menjawab: ”Bersiwak”.

    Maka sungguh nasehat ini harus dikerjakan oleh para suami. Hendaklah ia rajin bersiwak atau menggosok giginya. Jika berduaan dengan istri, pastikan sudah gosok gigi. Pastikan tak ada bau yang mengganggu. Hingga curhat pun menjadi mengasyikkan. Hingga berduaan pun jadi penuh kemesraan.

    Dan lebih dari itu, menggosok gigi atau bersiwak mendatangkan dua kebaikan. Kebersihan dan kesehatan mulut, serta mendatangkan keridhaan Tuhan. “Bersiwak itu membersihkan mulut dan membuat Tuhan ridha” (HR. Al Baihaqi dan An Nasa’i)

    Berhiaslah untuk istrimu


    Para sahabat Nabi adalah suami-suami yang terdepan dalam mengamalkan nasehat ini. Ibnu Abbas mengatakan, “Aku suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka istriku berhias untukku”

    Mengapa demikian, karena Ibnu Abbas yakin, “Sesungguhnya berhiasnya suami di hadapan istrinya akan membantu istri menundukkan pandangannya dari melihat laki-laki selain suaminya. Berhiasnya suami di hadapan istrinya juga makin mendekatkan hati keduanya.”

    Jika para sahabat yang sibuk berdakwah dan berjihad tidak lalai berhias untuk istrinya, bagaimana dengan kita? Semoga bisa meneladani mereka. [Muchlisin BK/Keluargacinta.com] 

    Istri Adalah Manajer dan Partner

    Wanita dinikahi bukan untuk melakukan aktivitas memasak dan mencuci. Apabila ia bisa memasak dengan rasa yang lezat itu adalah bonus, bukan kewajiban. Istri adalah manajer di dalam rumah. Namanya manajer seyognyanya punya staf alias anak buah maka tugas suamilah menyediakan pembantu untuk istrinya.

    Seorang istri harus memastikan bahwa keadaan dan suasana rumah nyaman bagi penghuninya. Ia akan mengusahakan dengan sekuat tenaga agar anggota keluarga betah dan kerasan tinggal di dalam rumah. Sebagai manajer, ia yang bertanggungjawab atas kerapian, ketertiban, kebersihan dan kenyamanan rumah.

    Oleh karena itu, seorang istri tidak boleh terlalu lelah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat teknis seperti mencuci, ngepel, memasak dan sejenisnya. Sebab, tugas lain selain sebagai manajer juga memerlukan energi yang besar. Apa itu? Istri juga sebagai partner bagi suami. Ia adalah teman diskusi yang cerdas dan menyenangkan bagi suami.

    Tugas istri begitu berat, sungguh tidak pantas seorang suami merendahkannya. Apabila ternyata istri Anda belum sanggup berperan sebagai manajer dan partner, maka tugas suamilah menyiapkan dan mendidiknya. Tanpa manajer dan partner yang hebat, pertumbuhan kesuksesan dan kemuliaan hidup Anda bisa terhambat dan tersendat.

    Sebagai manajer dan partner, maka perlakukanlah istri secara terhormat. Dia bukan staf atau karyawan Anda. Dia juga bukanlah pembantu Anda. Bila Anda belum punya pembantu atau mungkin pembantu tidak masuk kerja, ringankanlah dan bantulah istri Anda.

    Perlakuan kita terhadap istri akan sangat mempengaruhi perlakuan istri kepada anak-anak di rumah. Apabila kita memperlakukan istri secara terhormat maka akan berpeluang besar menghasilkan anak-anak yang percaya diri, memiliki jiwa kepemimpinan dan kemandirian.  Dalam jangka panjang, anak-anak akan tumbuh ke arah hidup yang lebih bermartabat dengan karakter yang kuat.
    Sudahkan kita memperlakukan istri sebagai manajer dan partner?

    Salam SuksesMulia!
    Jamil Azzaini 
    Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

    http://www.islamedia.web.id/2012/12/istri-adalah-manajer-dan-partner.html

    Kebahagiaan Istri adalah Kebahagiaan Suami


    Membahagiakan pasangan kita adalah hal yang sangat penting dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Di dalamnya akan banyak sekali keuntungan yang diperoleh jika pasangan kita merasa berbahagia. Betapa sukses hidup Rasulullah SAW dan para sahabat, karena peran istri-istri mereka karena merasa menjadi manusia yang dibahagiakan oleh suami-suaminya.
    Adanya ketenteraman dalam kehidupan berumah tangga merupakan prasyarat bagi lancarnya pencapaian tujuan berumah tangga. Tiap anggota keluarga memiliki tugas dan cita-cita yang harus dikejar dalam hidup ini. Suami bertugas sebagai pemimpin sekaligus pencari nafkah.
    Sedangkan istri adalah ratu yang mengatur kondisi rumah tangga sekaligus madrasah bagi anak-anaknya untuk mengenal dunia dan segala tata kehidupannya. Anak-anak adalah tunas yang harus tumbuh dan berkembang hingga dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga dan masyarakat.
    Semua tugas dan cita-cita itu hanya bisa terlaksana manakala suasana damai dan tenteram selalu hadir dalam rumah. Betapa sulit mencapai semua tujuan dan cita-cita tersebut manakala suasana yang hadir di rumah dipenuhi dengan amarah, saling curiga dan tak peduli satu sama lain apalagi sampai tak bertegur sapa (komunikasi tidak lancer) hingga berhari-hari lamanya.
    Dari banyak kasus, kegagalan (baca; perceraian) dalam membina rumah tangga seringkali dimulai dari tercabutnya rasa aman, damai dan komunikasi yang kurang lancer dari rumah. Dan, peran istri untuk menghadirkan suasana ‘surgawi’ itu tak dapat diganti oleh orang lain, bahkan seorang khadimat (pembantu) sekalipun. Manakala istri merasa bahwa sang suami memberinya kebahagiaan dan keikhlasan, maka tugas mengurus rumah tangga akan mudah dikerjakan.
    Kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya harta dan tingginya jabatan seseorang, tetapi ia berada di dalam hati. Tumpukan materi dan sanjungan yang tiada henti bukanlah prasyarat seseorang untuk meraih kebahagiaan. Itu semuanya bermuara pada hati. Seorang suami harus memiliki kelembutan dan kepekaan rasa. Ia harus tahu kapan hati istrinya ‘luka’ dan kapan hatinya sedang bahagia.
    Wanita pemalu atau pendiam biasanya hanya menyimpan saja luka di dalam hatinya tanpa mau mengatakan kepada siapapun, sekalipun kepada suaminya. Tidak ada satu nasihat pun yang dapat diterima oleh istri manakala kita menyampaikannya dengan kemarahan atau tak melihat perasaan istri.
    Rasulullah SAW pun memberi label pada laki-laki, bahwa yang paling di antara mereka (para suami) adalah yang paling baik sikapnya terhadap istrinya. “Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kamu terhadap istri.” Demikian sabda Nabi SAW.
    “…Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS. An Nisa: 19)
    Marilah kita kenali dan perlakukan hati istri kita dengan baik agar mereka dapat berbahagia, dan agar tujuan dalam membentuk keluarga yang penuh sakinah, mawaddah dan rahmat dapat tercapai. Sudahkah kita memberikan suasana damai dan ikhlas terhadap istri kita. Wallahua’lam.


    Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/25650/kebahagiaan-istri-adalah-kebahagiaan-suami/#ixzz2FlL81IIX

    Jalan Panjang Bernama Pernikahan

    Islam telah menganjurkan kepada manusia untuk menikah, karena di dalamnya ada banyak hikmah. Pernikahan merupakan fitrah setiap manusia. Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang berpasang-pasangan. Setiap jenis membutuhkan pasangannya. Seorang lelaki membutuhkan wanita, begitu pun sebaliknya, wanita membutuhkan lelaki. Ini adalah fitrah yang berikan kepada manusia.

    Islam diturunkan Allah SWT untuk menata hubungan kedua insan agar menghasilkan sesuatu yang positif bagi umat manusia dan tidak membiarkannya berjalan semaunya sehingga menjadi penyebab bencana.

    Dalam pandangan Islam, pernikahan adalah akad yang diberkahi. Di mana seorang lelaki menjadi halal bagi seorang wanita begitu pula sebaliknya. Mereka memulai perjalanan hidup berkeluarga yang panjang, dengan saling cinta, tolong menolong dan toleransi.

    “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum: 21).

    Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah SWT ingin menggambarkan hubungan yang sah itu dengan suasana yang penuh menyejukkan, mesra, akrab, kepedulian yang tinggi, saling percaya, pengertian dan penuh kasih sayang.

    Tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup karena iklim dalam rumah tangga yang penuh dengan kasih sayang dan mesra. Namun, proses membina pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warahmah serta bahagia sering tidak semulus yang dibayangkan oleh kebanyakan pasangan.

    Dengan adanya pernikahan, hal itu menunjukkan sejauh mana pasangan mampu merundingkan berbagai hal dan seberapa terampil pasangan suami istri itu mampu menyelesaikan konflik. Pasangan suami istri akan menyadari bahwa hal-hal yang berjalan dengan baik pada tahap-tahap awal pernikahan mungkin tidak dapat berfungsi sebaik pada tahap-tahap berikutnya, yakni ketika pasangan suami istri menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru dalam hubungan berumah tangga.

    Sepanjang perjalanan pernikahan, semua pasangan pasti akan menghadapi tekanan-tekanan baru. Tekanan-tekanan tersebut bisa berasal dari luar pernikahan, bisa juga dari dalam pernikahan itu sendiri, atau bahkan dari hal-hal yang sudah lama terpendam jauh di dalam diri masing-masing pasangan.

    Pasangan suami istri harus dapat dan mampu menyesuaikan diri dengan pasangan, untuk hidup harmonis, menyeimbangkan tugas-tugas, karir yang sedang menanjak, membesarkan anak-anak dan memberikan dukungan satu sama lain adalah tugas yang sangat kompleks dilakukan pasangan suami istri.

    Banyak pasangan suami istri yang terkejut, saat mereka mendapati bahwa konflik lama belum terselesaikan. Dia akan muncul dari orang tua, saudara kandung, atau di luar pasangan. Mereka akan muncul kepermukaan dalam hubungan pernikahan. Dan setiap konflik tersebut menunjukkan adanya tuntutan yang besar terhadap pasangan suami istri ketika mereka berusaha menghadapi berbagai persoalan, belajar memahami arti pengorbanan pada berbagai tingkatan yang baru dan bagaimana mempercayai orang yang dicintai.

    Pernikahan tidak selalu menghasilkan banyak tuntutan bagi orang-orang yang menjalaninya. Orang-orang tua kita terdahulu tidak begitu peduli dengan hal-hal tersebut. Bagi mereka pada umumnya, pernikahan adalah bagian dari kelangsungan hidup. Suami mencari nafkah sedangkan istri merawat rumah dan anak-anak.

    Namun, kini berumah tangga kehidupan semakin kompleks, dan tuntutan adanya keintiman dalam pernikahan generasi pendahulu, yaitu orang tua kita tidaklah sebesar tuntutan generasi sekarang. Dewasa ini, pasangan suami istri menginginkan jauh lebih banyak hal dari pernikahan.

    Mulai dari kehidupan materialist, fisik yang indah, keilmuan, ras, sosial masyarakat. Harapan-harapan yang lebih tinggi itu, pasangan terkadang lupa pada tanggung jawab masing-masing, oleh karena itu pasangan suami istri sangat perlu mengetahui arti pernikahan.

    Ya, karena pernikahan merupakan jalan yang aman bagi manusia untuk menyalurkan naluri seks. Pernikahan dapat memelihara dan menyelamatkan keturunan secara baik dan sah. Di samping itu, pernikahan pada dasarnya menjaga martabat wanita sesuai dengan kodratnya.

    Pernikahan juga merupakan suatu ikatan yang kuat dengan perjanjian yang teguh yang ditetapkan di atas landasan niat untuk bergaul antara suami istri dengan abadi. Supaya dapat memetik buah kejiwaan yang telah digariskan oleh Allah dalam Al Quran yaitu ketenteraman, kecintaan dan kebahagiaan. Wallahua’lam.


    Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/25406/jalan-panjang-bernama-pernikahan/#ixzz2FPHlvOCM

    Sakinah dalam Berumah Tangga

    “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”. (QS Ar Rum: 21)

    Pernikahan tidak hanya sekedar sebuah akad yang menghalalkan dua orang untuk memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami istri. Jika hanya sekedar akad, maka hal itu bisa diselesaikan dalam satu waktu saja, namun apa yang sesungguhnya ada di balik sebuah pernikahan?

    “Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lai (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil penjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu”. (QS. An Nisa: 21). Maka seperti yang Allah SWT sampaikan pada ayat diatas, pernikahan adalah sebuah perjanjian yang kuat (mitsaqon gholizho). Kata-kata mitsaqon gholizho ini terdapat tiga kali di dalam Al Quran.

    Pernikahan ini bukanlah senda gurau, yang pada hari ini diucapkan akad, lalu beberapa saat kemudian bercerai dengan alasan yang lemah. Perjanjian Allah SWT dengan dua orang yang berakad nikah ini disejajarkan dengan perjanjian Allah SWT dengan Bani Israil (QS An Nisa: 154) dan perjanjian Allah dengan para Nabi (QS Al Ahzab: 7).

    Membentuk rumah tangga yang sakinah menjadi tanggung jawab suami terutama mendidik keluarganya soal agama. Dan agama adalah masalah keyakinan. Maka penting buat laki-laki untuk mempersiapkan diri soal ini, dan wanita hendaknya pandai memilih pasangan yang dapat membimbing dia.

    Bagi suami, hendaklah ia memberikan sesuatu yang patut dalam urusan nafkah serta menjadi imam atau teladan dalam keluarga. Imam tersebut termasuk menjadi imam salat. Dan istri, hendaklah ia menjaga rumah tangga yang dibangun bersama suaminya termasuk menutupi hal-hal yang kurang berkenan di hatinya bahkan pada orang tuanya sendiri.

    Secara garis besar, berdasarkan fitrah manusia, agama mengatur tanggung jawab, peran dan fungsi pasangan suami-istri (pasutri) masing-masing dalam kehidupan berkeluarga. Sempurnakanlah dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan membangun rumah tangga yang semoga dengan demikian akan dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT.

    Menurut ketentuan agama, tanggung jawab sebagai kepala keluarga berada dipundak suami dengan tanggung jawab terbesar dan terberat adalah menjaga agar bahtera keluarga selalu berjalan menuju visi abadi, “kebahagiaan dunia akherat dan terhindar dari siksa neraka abadi”.

    Teladan mulia bagi istri tentunya adalah Ibunda Khadijah, yang selalu memberikan keteduhan, kelembutan, dan juga dorongan yang tiada henti kepada suami untuk tetap istiqomah sehingga betapapun beratnya tantangan dalam rangka menuju visi abadi itu selalu dapat diatasi dengan baik dan penuh tanggung jawab.

    Ingatlah selalu bagi pasangan suami istri bahwa salah satu fungsi pasangan suami istri menurut Al Quran surat Al Baqarah ayat 187 adalah seperti pakaian (hunna libaasullakum wa antum libaasullahun, mereka adalah pakaian bagimu dan kamupun adalah pakaian bagi mereka).

    Fungsi pakaian selain untuk keindahan adalah juga untuk menutupi aurat, maka suami istri harus saling menutupi kelemahan pasangannya. Seandainya kalian melihat kelemahan pada pasangan kalian maka berdoalah agar dibalik kelemahan itu terdapat kebaikan yang tidak terduga.

    Ingatlah firman Allah SWT di dalam surat An Nisa ayat 19, “Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya". Sekali lagi pernikahan itu ada kompromi di dalamnya. Bagaimanapun juga manusia berbeda satu sama lain, bukan? Setiap pasangan suami istri pastinya juga akan berbeda. Namun dengan perbedaan itulah dijadikan satu kekuatan. Wallahua'lam

Sastra Islami