Serial Cinta

Informasi Haji dan Umrah

    Ketika Diri Ini Membangun Cinta


    Rindu Ke Baiullah – Membahas mengenai kata CINTA memang tidak akan ada habisnya. Seperti yang dituliskan Anis Matta dalam bukunya ‘Serial Cinta’, Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat. Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuatan besar. Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta.
    Inilah rangkaian peristiwa yang membuat cinta diidentikkan dengan perasaan (feeling). Bahkan tayangan tentang cinta di Indonesia hampir ada di setiap bahasan media cetak dan elektronik dari mulai iklan, sinetron sampai layar lebar. Pagi sampai pagi lagi tayangan sinetron di televisi Indonesia hampir semuanya membicarakan tentang cinta. Ceritanya tak akan ada habisnya. Hingga tak hayal ketika sikap dan perilaku anak-anak dan remaja tidak jauh dari yang digambarkan dalam acara televisi tersebut. Coba perhatikan pengalaman jatuh cinta kita masing-masing. Ada kekuatan maha dahsyat yang ada di dalam diri, yang membuat badan, jiwa dan pikiran ini demikian perkasanya. Seolah-olah disuruh memindahkan gunung pun rasanya bisa. Disuruh mengecat langit pun mampu. Tak ada yang tak mungkin. Tak ada yang mustahil. Itulah cinta.
    Tengoklah bukti cinta itu dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, dua orang yang gagah berani dan memiliki tekad kuat untuk mendeklarasikan proklamasi, kalau saja tanpa cinta, Bunga Karno dan Bung Hatta terhadap bangsa, negara dan agama, mungkin Indonesia tidak akan seperti sekarang. Belum lagi Jenderal Soedirman yang dengan badannya sakit-sakitan ketika memimpin pasukan dalam perlawanan melawan Belanda, kalau tanpa diiringi modal cinta yang mengagumkan. Seorang Ibu yang merelakan setiap jerih payahnya untuk membahagiakan cinta bersama suami dan anaknya sekalipun hati seorang Ibu sedang sakit tetapi tetap tulus menampakkan kecintaan itu kepada suami dan anak-anaknya. Itulah cinta yang maha dahsyat yang merubah keadaan menjadi lebih indah dengan adanya kekuatan spiritual.
    Sebagai umat muslim selayaknya sudah tahu seseorang yang menjadi dambaan Allah ta’ala yaitu Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam, yang dengan kecintaan Allah kepada kekasihnya itu rela membimbingnya setiap saat untuk menjunjung sebuah perubahan besar di dunia. Begitu pun Rasulullah Muhammadshalallahu alaihi wassalam, dengan kecintaannya yang amat besar kepada umatnya hingga akhir hayatnya pun mengatakan, “ummatii, ummatii, ummatti…” yang dibisikkan ke telinga Ali.
    Hadits Rasulullah yang inspiratif dan mendalam tentang cinta. Dari Anas RA, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Ada tiga perkara barangsiapa tiga hal itu ada pada dirinya, maka ia menjumpai manisnya iman, yaitu jika Allah dan RasulNya lebih dicintainya ketimbang selain keduanya, dan jika cinta kepada seseorang, dimana tidak mencintainya kecuali karena Allah dan jika benci kembali kepada kekafiran sebagaimana benci apabila dilempar ke dalam api neraka.” (Rowahu al-Bukhary Juz I Bab Halawatul Iman).
    Beliau sudah jauh-jauh hari memberikan makna cinta yang ada dalam diri manusia dengan hanya ditujukan kepada Allah ta’ala. Sejatinya cinta bukan saja hanya berkutat dengan permasalahan duniawi saja melainkan cinta yang sesungguhnya bagaimana ia menghubungkan hati dengan sang Khaliq. Kalau saja seseorang rela berbuat apapun dengan tidak mengindahkan segala macam rintangan dan bersikap baik terhadap orang yang dicintainya, seharusnya cinta yang maha dahsyat itu juga bisa diwujudkan ketika kecintaan kita kepada Allah dan Rasulullah. Ketika kecintaan dan keimanan itu beriringan, maka jangan heran keindahan cinta akan menjadikan hidup ini begitu mulia. Hidup yang dijalankan menjadi merendah kepada Allah ta’ala dengan cara menjalankan semua perintah dan menjauhi laranganNya. Selalu bangun, bersimpuh di 1/3 malam yang akhir. Semua itu berakar karena cinta dan diliputi kerinduan yang sangat, sehingga berulang dan mendalam. Apalagi jika sudah benar – benar jatuh cinta. Jika kematian pun datang maka yang dirasa adalah bahagia dengan penuh kesyukuran dan kepasrahan yang mendalam karena akan bertemu Sang Kekasih yang Maha Mengasihi; Allah ta’ala.
    Perlu perjuangan tersendiri untuk memahatkan kata cinta dalam hati kepada sang Khaliq. Perjuangan itu harus dimulai dan diniatkan, bukan saja menjadi angan-angan belaka yang menjadi derai pikiran kita setiap waktu. Marilah, mulai sekarang sadarilah bahwa jatuh cinta bukan sekedar masalah perasaan saja, temukan dan bangunlah jatuh cinta sebagai kekuatan spiritual. Jatuh cinta bisa digunakan sebagai sarana bagi orang yang berjalan menekuni lorong – lorong keimanannya untuk menemukan manisnya iman. Sehingga tidak ada satu kata pun yang mewakili untuk menggambarkan rasa cinta yang telah kita bangun hanya kepada Allah ta’ala. Dari Zaid bin Tsabit RA, dia mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang menjadikan dunia sebagai niatnya, Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya dan Allah akan cerai – beraikan kebutuhannya. Dan dunia tidak akan datang kepadanya, kecuali yang telah ditetapkan baginya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, Allah akan mencukupi kebutuhannya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (Rowahu Ibnu Majah)
    Oleh karenanya, mari kita bangun cinta. Seperti kecintaan kita kepada seseorang, dimana semua unsur badan dan jiwa begitu dahsyatnya dalam menuangkan rasa cinta itu tanpa memikirkan segala macam tantangan yang ada, demikian juga kita tunjukkan dengan jatuh cinta kepada Allah dan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam, yang berbuah keimanan seperti yang Allah ta’ala janjikan. Berangkat dari sini kemudian Allah ta’ala mengangkat pribadi kita setinggi-tingginya ke rangkaian realita yang nantinya disebut Luar Biasa. Ya, itulah cinta, Ia mendamaikan, menggembirakan, mencerahkan, mengagumkan dan menakjubkan. Sudahkah kita bangun cinta secara benar dan ikhlas, setelah kita mendambakan diri ini termasuk orang-orang beriman?  Jika belum, mari kembangkan diri lebih baik lagi, bukan target dan pencapaian – pencapaian tahunan yang kita cari, tetapi kematangan diri dalam persiapan kembali ke surgawi. Dan jalan – jalan cinta sudah menunggu, dengan sabarnya mereka menanti, kapan kita jatuh cinta di jalan Allah dan RasulNya ini.
    di sana, ada cita dan tujuan
    yang membuatmu menatap jauh ke depan
    di kala malam begitu pekat
    dan mata sebaiknya dipejam saja
    cintamu masih lincah melesat
    jauh melampaui ruang dan masa
    kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
    lalu disengaja malam terakhir
    engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
    melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
    dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
    dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
    dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
    dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati

    teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang

    menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman
    walau duri merantaskan kaki,
    walau kerikil mencacah telapak
    sampai engkau lelah, sampai engkau payah
    sampai keringat dan darah tumpah
    tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
    di jalan cinta para pejuang
    (Salim A. Fillah)
    Referensi:
    1. Al-Qur’anul Kariim
    2. Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury “Sirah Nabawiyah”
    3. Anis Matta “Serial Cinta”
    4. Salim A. Fillah “Jalan Cinta Para Pejuang
    5. Ustadz Faizunal Abdillah “Jatuh Cinta”

    (zk, Sumber: Dakwatuna.com)


    5 Kriteria Wanita yang Direkomendasikan Nabi untuk Dinikahi

    Rindu Ke Baitullah Berikut ini 5 kriteria wanita yang direkomendasikan Rasulullah untuk dinikahi. Jika 5 kriteriia ini ada pada diri calon istri Anda, bersyukurlah. Jika tidak semuanya bisa terpenuhi, Anda dapat mengurut-prioritaskan dari yang paling atas.

    Shalihah

    Kriteria paling utama yang direkomendasikan Rasulullah kepada umatnya untuk dinikahi adalah kebaikan agamanya. Wanita shalihah. Bukan semata pengetahuan agamanya bagus, tetapi yang lebih penting adalah pengamalannya.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
    “Wanita dinikahi karena empat hal; hartanya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya, Maka pilihlah karena faktor agama niscaya engkau beruntung” (HR. Al Bukhari)
    Dalam hadits yang lain, Rasulullah mensabdakan bahwa budak wanita hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama daripada wanita cantik dan kaya tapi tak punya agama.
    لَا تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلَا تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ
    “Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu merusak mereka. Janganlah menikahi mereka karena harta-harta mereka, bisa jadi harta-harta mereka itu membuat mereka sesat. Akan tetapi nikahilah mereka berdasarkan agamanya. Seorang budak wanita berkulit hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama.” (HR. Ibnu Majah)

    Wanita yang Baik

    Hampir sama dengan poin sebelumnya. Namun sifatnya lebih umum. Yakni wanita yang baik dan membuatmu suka.
    عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَإِنْ خِفْتُمْ أَنْ لَا تُقْسِطُوا إِلَى وَرُبَاعَ فَقَالَتْ يَا ابْنَ أُخْتِي هِيَ الْيَتِيمَةُ تَكُونُ فِي حَجْرِ وَلِيِّهَا تُشَارِكُهُ فِي مَالِهِ فَيُعْجِبُهُ مَالُهَا وَجَمَالُهَا فَيُرِيدُ وَلِيُّهَا أَنْ يَتَزَوَّجَهَا بِغَيْرِ أَنْ يُقْسِطَ فِي صَدَاقِهَا فَيُعْطِيهَا مِثْلَ مَا يُعْطِيهَا غَيْرُهُ فَنُهُوا أَنْ يُنْكِحُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يُقْسِطُوا لَهُنَّ وَيَبْلُغُوا بِهِنَّ أَعْلَى سُنَّتِهِنَّ مِنْ الصَّدَاقِ وَأُمِرُوا أَنْ يَنْكِحُوا مَا طَابَ لَهُمْ مِنْ النِّسَاءِ سِوَاهُنَّ
    Dari ‘Urwah bin Az Zubair bahwa dia bertanya kepada ‘Aisyah radliallahu ‘anha tentang firman Allah yang artinya: (“Jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil …. seterusnya hingga …empat-empat”. (QS. An-Nisaa ayat 3), maka ia menjawab: “Wahai anak saudariku, yang dimaksud ayat itu adalah seorang anak perempuan yatim yang berada pada asuhan walinya, hartanya ada pada walinya, dan walinya ingin memiliki harta itu dan menikahinya namun ia tidak bisa berbuat adil dalam memberikan maharnya, yaitu memberi seperti ia memberikan untuk yang lainnya, maka mereka dilarang untuk menikahinya kecuali jika mereka bisa berbuat adil pada mereka, dan mereka memberikan mahar terbaik kepadanya, mereka diperintahkan untuk menikahi wanita-wanita yang baik untuk mereka selain anak-anak yatim itu”. (HR. Bukhari)

    Penyayang (Al Waduud)

    Yakni wanita yang penuh kasih sayang kepada suami dan keluarga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ
    “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur karena aku berbangga dengan banyaknya ummatku pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud. Hadits senada diriwayatka oleh An Nasa’i dan Ahmad)

    Subur (Al Waluud)

    Sebagaimana hadits di atas. Selain wanita penyayang, Rasulullah juga merekomendasikan wanita yang subur. Yang bisa melahirkan banyak anak. Sebab Rasulullah bangga dengan banyaknya umatnya.
    انْكِحُوا أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ فَإِنِّي أُبَاهِي بِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
    “Nikahilah ibu-ibu dari anak-anak (yaitu wanita-wanita yang bisa melahirkan) karena sesungguhnya aku akan membanggakan mereka pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

    Sekufu/setara

    Kriteria kelima yang direkomendasikan Rasulullah adalah, bahwa wanita tersebut setara atau sekufu dengannya.
    تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ وَانْكِحُوا الْأَكْفَاءَ وَأَنْكِحُوا إِلَيْهِمْ
    “Pandai-pandailah memilih untuk tempat seperma kalian. Nikahilah wanita-wanita yang setara, dan nikahkanlah mereka.” (HR. Sunan Ibnu Majah). [Keluargacinta.com] 

    Akhwat Tak Perlu Menunggu, Ikhwan Tak Perlu Meragu


    Hmm … Ada statement menarik nih dari seorang akhwat. Tugas kami akhwat cuma menunggu untuk “diam” atau “tolak”. Slogan yg bikin galau terus melanda: akhwat terus menunggu, ikhwan terus meragu. Alhamdulillah, saya dan istri pernah memproses menikahkan ikhwan dan akhwat, dimana inisiatif datang dari akhwat.

    Ada seorang akhwat yang pernah jadi binaan ngaji (mutarobi) istri saya, tiba-tiba mendatangi istri saya: “mbak, aku mau nikah” , katanya.
    Istri saya jawab: “bagus itu, sudah ada calonnya?” | “belum mbak, tapi aku suka sama seorang ikhwan” | “siapa ikhwannya, biar saya dan suami bantu”

    Akhwat ini kemudian menyebutkan nama seorang ikhwan, salah satu ikhwan terbaik di ITB.
    Setelah tahu nama ikhwannya, saya mendatangi ikhwan tersebut. “Akh, apakah antum ada rencana menikah?” | “insya allah akh”
    “Kalau dalam waktu dekat, antum menikah gimana? ” | “boleh aja, insya allah siap” | “sudah ada bayangan siapa calon istrinya?” | “belum akh”

    “Bagaimana kalo ana mengusulkan nama akhwat untuk antum? ” | “boleh akh” | “gimana kalo akhwat ini? Saya sebutkan namanya
    Setelah saya sebutkan namanya, ikhwan ini bilang: “akhwat ini luar biasa akhii, apa saya pantas jadi suami beliau?” | “insya Allah akhii”
    “Gimana akh, antum mau menikah dengan akhwat ini?” | “masalahnya, dia mau gak sama saya?” | “tenang akh, soal itu, urusan ana dan istri” :D
    “Mau ya nikah dengan akhwat ini” | “insya allah akh” . Alhamdulillah, saya beritau ke istri, istri beritahu ke akhwatnya.

    Saya kontak guru ngajinya ikhwan dan istri kontak guru ngajinya akhwat, minta ijin ikhwan dan akhwat ini saya dan istri yamg bantu prosesnya.
    Alhamdulillah, kami pertemukan ikhwan dan akhwat ini, untuk mempertanyakan hal-hal yang mungkin masih ada keraguan.
    Setelah keduanya mantap meneruskan prosesnya, tugas selanjutnya adalah meyakinkan kedua orang tua. Giliran ikhwan yang datang ke ortu akhwat. Selama akhwat ini jadi binaan ngaji istri saya, beliau selalu menceritakan hal-hal positif tentang istri saya, sampe si ortu penasaran ingin ketemu istri. Akhwat ini dari daerah di jawa tengah. Ketika ortunya ke Bandung, mereka sangat ingin bertemu dengan istri. Beberapa kali istri saya menemui beliau. Kondisi ini kami manfaatkan, saya yang menemani ikhwan saat mendatangi keluarga akhwat di Jawa Tengah. Karena begitu positifnya istri saya di mata ortu si akhwat, kata-kata yang saya ucapkan ketika pertama bertemu ortunya akhwat adalah …

    “Bapak , ibu … Kenalkan sy hafidz, suaminya iin” :D
    Alhamdulillah, semuanya lancar, ortunya akhwat langsung setuju . Pulang dibawain oleh-oleh buanyak bener :D

    Ikhwan dan akhwat ini akhirnya menikah, sudah punya dua anak. Bahwa si akhwat duluan yang suka ke ikhwannya, tidak saya sampaikan ke ikhwan. Setelah mereka menikah, baru saya sampaikan ke ikhwannya, bahwa si akhwatlah yang mengajukan namanya duluan. Gpp kan? :D Biarlah cerita bahwa si akhwat yang suka dulu, jadi bahan obrolan di kamar mereka :D

    Saya dan istri senang sekali membantu akhwat-akhwat yang bersedia menyebut nama ikhwan yang memikat hatinya :)
    Terakhir ketemu ikhwan dan akhwat ini pas pemilu IA ITB kemarin. Tetap seorang ikhwan dan akhwat aktivis. Alhamdulillah.
    Lain lagi ikhwan dan akhwat yang lain. Si ikhwan menyebut sebuah nama. Kemudian kami lobi supaya akhwatnya mau. Akhirnya mau.

    Saat semua sudah setuju, sudah lamaran, menjelang nikah, si akhwat tiba-tiba meragu dan mundur.
    Kemudian ikhwan ini menyebut nama lain, kita bantu, akhirnya menikah dengan akhwat ini. Dan akhwat yang mundur tadi juga sudah menikah dengan yang lain

    Lain dengan ikhwan yang lain. Ikhwannya sahabat saya dan akhwatnya sahabat istri. Ikhwan dan akhwat sudah setuju, keluarga akhwat sudah setuju. Pas akhwat berkunjung ke keluarga ikhwan, ibunya ikhwan ini tidak setuju karena dianggap kurang cantik. Akhirnya prosesnya batal.  Alhamdulillah, tak lama kemudian. Akhwat menikah dengan yang lain, yang lebih shalih dar isi ikhwan tadi. Si ikhwan menikah dangan akhwat yang lebih cantik

    Lain lagi dengan ikhwan yang lain, menyebut nama seorang akhwat, tapi sampai 7x bertemu ditolak terus. Akhirnya mengajukan akhwat lain, menikahlah. Ikhwan yg 7x ditolak ini, setelah menikah, bersyukur sekali menikah dangan istrinya sekarang dan tak menyesal karena tidak menikah dengan akhwat yang menolaknya.


    Menjodohkan orang itu menyenangkan …
    Menjodohkan orang, terutama binaan-binaan adalah hobi kami berdua, saya dan istri.
    Slogan “akhwat menunggu, ikhwan meragu” sangat menghambat gerakan perlawanan ini, perlawanan terhadap budaya pacaran dan zina.

    Ikhwan dan akhwat harus sama-sama pro aktif , meskipun cara pro aktifnya berbeda. Jangan kayak telenovela korea.
    Acung jempol buat akhwat-akhwat yang pro aktif.
    Akhwat yang meminta langsung ke ikhwan, ini jelas berat untuk seorang akhwat. Makanya kita bantu ngomongnya. [Sumber : http://hafidzary.wordpress.com ]

    Jalan Panjang Bernama Pernikahan


    Rindu Ke Baitullah – Islam telah menganjurkan kepada manusia untuk menikah, karena di dalamnya ada banyak hikmah. Pernikahan merupakan fitrah setiap manusia. Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang berpasang-pasangan. Setiap jenis membutuhkan pasangannya. Seorang lelaki membutuhkan wanita, begitu pun sebaliknya, wanita membutuhkan lelaki. Ini adalah fitrah yang berikan kepada manusia.
    Islam diturunkan Allah SWT untuk menata hubungan kedua insan agar menghasilkan sesuatu yang positif bagi umat manusia dan tidak membiarkannya berjalan semaunya sehingga menjadi penyebab bencana.

    Dalam pandangan Islam, pernikahan adalah akad yang diberkahi. Di mana seorang lelaki menjadi halal bagi seorang wanita begitu pula sebaliknya. Mereka memulai perjalanan hidup berkeluarga yang panjang, dengan saling cinta, tolong menolong dan toleransi.

    Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum: 21).

    Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah SWT ingin menggambarkan hubungan yang sah itu dengan suasana yang penuh menyejukkan, mesra, akrab, kepedulian yang tinggi, saling percaya, pengertian dan penuh kasih sayang.

    Tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup karena iklim dalam rumah tangga yang penuh dengan kasih sayang dan mesra. Namun, proses membina pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warahmah serta bahagia sering tidak semulus yang dibayangkan oleh kebanyakan pasangan.

    Dengan adanya pernikahan, hal itu menunjukkan sejauh mana pasangan mampu merundingkan berbagai hal dan seberapa terampil pasangan suami istri itu mampu menyelesaikan konflik. Pasangan suami istri akan menyadari bahwa hal-hal yang berjalan dengan baik pada tahap-tahap awal pernikahan mungkin tidak dapat berfungsi sebaik pada tahap-tahap berikutnya, yakni ketika pasangan suami istri menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru dalam hubungan berumah tangga.

    Sepanjang perjalanan pernikahan, semua pasangan pasti akan menghadapi tekanan-tekanan baru. Tekanan-tekanan tersebut bisa berasal dari luar pernikahan, bisa juga dari dalam pernikahan itu sendiri, atau bahkan dari hal-hal yang sudah lama terpendam jauh di dalam diri masing-masing pasangan.

    Pasangan suami istri harus dapat dan mampu menyesuaikan diri dengan pasangan, untuk hidup harmonis, menyeimbangkan tugas-tugas, karir yang sedang menanjak, membesarkan anak-anak dan memberikan dukungan satu sama lain adalah tugas yang sangat kompleks dilakukan pasangan suami istri.

    Banyak pasangan suami istri yang terkejut, saat mereka mendapati bahwa konflik lama belum terselesaikan. Dia akan muncul dari orang tua, saudara kandung, atau di luar pasangan. Mereka akan muncul kepermukaan dalam hubungan pernikahan. Dan setiap konflik tersebut menunjukkan adanya tuntutan yang besar terhadap pasangan suami istri ketika mereka berusaha menghadapi berbagai persoalan, belajar memahami arti pengorbanan pada berbagai tingkatan yang baru dan bagaimana mempercayai orang yang dicintai.

    Pernikahan tidak selalu menghasilkan banyak tuntutan bagi orang-orang yang menjalaninya. Orang-orang tua kita terdahulu tidak begitu peduli dengan hal-hal tersebut. Bagi mereka pada umumnya, pernikahan adalah bagian dari kelangsungan hidup. Suami mencari nafkah sedangkan istri merawat rumah dan anak-anak.

    Namun, kini berumah tangga kehidupan semakin kompleks, dan tuntutan adanya keintiman dalam pernikahan generasi pendahulu, yaitu orang tua kita tidaklah sebesar tuntutan generasi sekarang. Dewasa ini, pasangan suami istri menginginkan jauh lebih banyak hal dari pernikahan.

    Mulai dari kehidupan materialist, fisik yang indah, keilmuan, ras, sosial masyarakat. Harapan-harapan yang lebih tinggi itu, pasangan terkadang lupa pada tanggung jawab masing-masing, oleh karena itu pasangan suami istri sangat perlu mengetahui arti pernikahan.

    Ya, karena pernikahan merupakan jalan yang aman bagi manusia untuk menyalurkan naluri seks. Pernikahan dapat memelihara dan menyelamatkan keturunan secara baik dan sah. Di samping itu, pernikahan pada dasarnya menjaga martabat wanita sesuai dengan kodratnya.

    Pernikahan juga merupakan suatu ikatan yang kuat dengan perjanjian yang teguh yang ditetapkan di atas landasan niat untuk bergaul antara suami istri dengan abadi. Supaya dapat memetik buah kejiwaan yang telah digariskan oleh Allah dalam Al Quran yaitu ketenteraman, kecintaan dan kebahagiaan. Wallahua’lam.(dakwatuna.com)

    Mencintai Itu Keputusan

    Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar kemudian iapun berkata, “Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang akan kamu temui di sini.” Itulah kalimat pertama Utsaman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya di Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti.

    Sebab cinta adalah kata lain dari memberi... sebab memberi adalah pekerjaan... sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat... sebab pekerjaan itu harus ditunaikan dalam waktu lama... sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh... maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, “Aku mencintaimu.” Kepada siapapun!

    Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian di situ. “Aku mencintaimu,” adalah ungkapan lain dari, “Aku ingin memberimu sesuatu.” Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari, “Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia... aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin... aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku, proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang kulakukan padamu... aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu dan proses pertumbuhan itu...” Taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, “Aku mencintaimu,” kamu harus membuktikan ucapan itu. Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.

    Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.

    Jalan hidup kita biasanya tidak linier. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Disitu konsistensi diuji. Di situ juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tegah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar.

    Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat lagi yang lain. Bahkan setelah sang pencinta mati. Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu. ~ Anis Matta ~

    Cinta Dan Kimia Jiwa

    Lelaki perlente itu tidak hanya dikenal sangat tampan, yang ketampanannya bahkan mengalahkan kecantikan wanita paling cantik. Ia juga lelaki paling berkuasa dan paling disegani di muka bumi ketika itu. Lelaki itu adalah khalifah pertama sekaligus pendiri khilafah Bani Umayyah. Di ibu kota khilafahnya, Damaskus, ia membangun sebuah istana megah. Ia punya selera. Semua yang ia miliki adalah mimpi-mimpi wanita. Namun itu lantas jadi ironi: kali ini cinta tersedak. Ia tergila-gila pada seorang gadis badui yang cantik dan innocent. Ia menikahinya. Lalu memboyongnya tinggal di istannya. Tapi ia gagal menerbitkan bahkan sebersitpun cinta dalam hati sang istri. Ketampanan, kemewahan dan kekuasaan Muawiyah tidak cukup memadai membangkitkan cinta dalam jiwanya. Ia bahkan tidak mengerti bagaimana menikmati kemewahan dalam istana sang suami. Setiap kali langkah kakinya menderap di sudut-sudut istana, ingatannya malah kembali ke dusunnya. Sebab disana ada seorang pemuda badui yang terus merindukannya.

    Pada suatu malam yang sunyi, ketika purnama menghias langit malam, kesabarannya berakhir. Rindunya meledak dalam bait-bait syair yang ia senandungkan. Sayup-sayup Muawiyah mendengarnya. Ia terhenyak. Ia tahu bait-bait itu adalah sebuah deklarasi: aku tidak mencintaimu, aku tidak mencintaimu, aku ingin pulang, aku tidak bisa mencintaimu, aku ingin menikah dengan kekasihku! Muawiyah tersadar. Kekuasaan memungkinkan ia menikahi gadis badui itu dengan mudah. Tapi kekuasaan tidak dapat membantunya merebut cintanya. Gadis innocent itu adalah perempuan merdeka. Ia memilih untuk meninggalkan istana Muawiyah yang megah hanya untuk hidup bersama seorang pemuda dusun yang teramat sederhana. Dengan berat hati akhirnya Muawiyah menceraikan sang istri, seorang gadis lugu yang telah membuatnya tergila-gila.

    Cinta secara umum adalah emosi kebajikan yang meledakkan semangat memberi dalam jiwa kita. Itu sebabnya kita selalu menjadi lebih baik ketika kita sedang jatuh cinta. Tapi ketika cinta dihadapkan pada objeknya, khususnya cinta antara laki-laki dan wanita, emosi kebajikan tetaplah emosi kebajikan, tapi dengan chamistry yang sangat unik. Dua emosi kebajikan belum tentu bisa bertaut secara kimiawi dengan mudah. Jauh sebelum cinta menjelma menjadi pertemuan dia fisik, ia terlebih dahulu bertaut di alam jiwa. Jika ada pertemuan fisik yang tidak didahului oleh pertemuan jiwa itu bukanlah cinta. Maka sepasang laki-laki dan wanita bisa melakukan hubungan seks tanpa cinta. Atau, pernikahan bisa berlangsung tanpa cinta. Sebagai manusia jiwa kita memiliki tabiat kimiawi yang sangat unik. Dan tidak bisa ditebak. Seorang perempuan lembut bisa jadi mencintai seorang laki-laki kasar, kerena kelembutan dan kekasaran adalah dua kutub jiwa yang bisa bertemu seperti air dan api: saling tergantung dan saling menggenapkan.

    Tapi keunikan jiwa itu sama sekali tidak mengurangi kadar kebenaran dari fakta bahwa cinta sebagai emosi kebajikan tetaplah harus mengejawantah pada semangat memberi, dan bahwa nilai kita di mata orang yang kita cintai tetaplah terletak pada kadar manfaat yang kita berikan padanya. Dan jika pada suatu hubungan cinta kita tidak memberi sesuatu pada yang kita cintai, sementara hubungan cinta itu tetap berlanjut, bahkan langgeng, percayalah, itu semata-mata karena kesabaran sang kekasih menyaksikan pencintanya mengkonsumsi kebajikannya setiap saat, atas nama cinta. Yang satu memberi atas nama cinta, yang lain menerima atas nama cinta. Ironis memang. Tapi faktanya ada. Bahkan mungkin banyak beredar di sekitar kita. ~ Anis Matta ~

    Semangat Penumbuhan

    Pekerjaan kedua seorang pencinta sejati, setelah memperhatikan, adalah penumbuhan. Inilah cintanya cinta. Inilah rahasia besar yang menjelaskan bagaimana cinta bekerja mengubah kehidupan kita dan membuatnya menjadi lebih baik, lebih bermakna.

    Cinta adalah gagasan dan komitmen jiwa tentang bagaimana membuat kehidupan orang yang kita cintai menjadi lebih baik. Jika perhatian memberikan pemahaman mendalam tentang sang kekasih, maka penumbuhan berarti melakukan tindakan-tindakan nyata untuk membantu sang kekasih bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik.

    Kita tidak boleh berhenti diujung perhatian sembari mengatakan kepada sang kekasih: "Aku mencintaimu sebagaimana kamu adanya." Atau: "Aku menerima dirimu apa adanya." Memahami dan mengerti sang kekasih tidaklah cukup. Seorang pencinta sejati harus mampu mengimajinasikan sebuah plot akhir dari kehidupan yang dijalani sang kekasih. Itu tidak berarti bahwa kita mengintervensi kehidupannya secara rigid atas nama cinta. Tidak! yang dilakukan seorang pencinta sejati adalah menginspirasi sang kekasih untuk meraih kehidupan paling bermutu yang mungkin ia raih berdasarkan keseluruhan potensi yang ia miliki.

    Kalau bukan karena kerja-kerja penumbuhan, seorang pencinta sejati tidak akan sanggup bertahan hidup disamping seorang kekasih yang ilmu, pengalaman, keterampilan, dan kepribadiannya, tidak bertumbuh dalam 10 tahun perkawinannya, misalnya. Kamu pasti bosan mengobrol dengan seorang yang hidupnya stagnan, dingin dan tidak dinamis. Para pencinta sejati menemukan gairah kehidupan dari perubahan-perubahan dinamis dalam kehidupan kekasih mereka. Seperti gairah kehidupan yang dirasakan seorang ibu ketika ia menyaksikan bayinya tumbuh dan berkembang menjadi anak remaja lalu dewasa. Atau gairah yang dirasakan seorang guru saat menyaksikan muridnya tumbuh menjadi ilmuwan dan intelektual.

    Penumbuhanlah yang membedakan cinta yang matang dengan cinta seorang melankolik. Penumbuhan memberikan sentuhan edukasi pada hubungan cinta. Sebab di sini cinta bukan sekedar gumpalan emosi di langit jiwa: yang mungkin meledak bagai halilintar, atau membanjiri bumi dengan hujan air mata, pikiran dan fisik sekaligus. Itu yang membuatnya nyata. Dan efektif.

    Di tangan Rasulullah saw Aisyah bukan hanya seorang istri. Rasulullah saw telah menumbuhkannya menjadi bintang di langit sejarah. Suatu saat Ali Tanthowi mengatakan: "Istriku yang tamatan SD ternyata lebih intelek daripada mahasiswi-mahasiswiku yang hampir sarjana." Beliau mengatakan itu setelah melewati 10 tahun masa perkawinan. Ketika Iqbal menemukan dirinya telah menjadi filosof dunia, ia menyadari itu kerja sang guru. Maka ia berkata tentang gurunya itu: "Dan nafas cintanya meniup keuncupku jadi bunga." ~ Anis Matta ~

Sastra Islami